E-Learning :: E-Pembelajaran
Seringkali Pendidikan.Network dihubungi mengenai kolaborasi terhadap membuat situs e-learning, jadi kami merasa terpaksa untuk menulis perasaan kami di sini..
Menurut kami e-learning bukan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak sekolah. Tetapi e-learning dapat membantu dengan meningkatkan pendidikan bangsa.
Pendidikan di Indonesia sedang berkembang dan sudah ada tanda kepedulian dari beberapa pihak termasuk Presiden, DPR dan orang-orang tertentu di DepDikNas, maupun di lapangan. Jadi fokusnya harus tetap diarahkan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan pendidik di sekolah sampai mutu pendidikan di seluruh Indonesia sudah ternilai baik.
Pendidikan di sekolah yang bermutu adalah kunci untuk menyiapkan anak-anak di Indonesia untuk masa depan maupun dunia global. Memang semua siswa perlu keterampilan komputer dan memperkenalkan Internet (mereka dapat kenal Internet di warnet), tetapi mereka tidak perlu pelatihan khusus untuk Internet karena bahan pendidikan di Internet yang bermutu dalam bahasa Indonesia adalah sangat sedikit, dan yang tertarik dapat belajar di warnet saja.
Kalau siswa-siswi dapat belajar pendidikan yang baik di sekolah Internet hanya sebagai sejenis komunikasi, hiburan dan sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan pribadi mereka.
Di Bawah Ada Dua Saran Dari Lapangan
Saran pertama ini adalah dari E-Pendidikan.Com
DARI:
Kalimantan Selatan
|
TANGGAL:
20/09/2008
|
NAMA:
Harpinto
|
Saya: Guru
KEMAMPUAN MENGAJAR GURU TAHUN 2008: Guru harus memiliki kemampuan menyusun atau mendesain skenario pembelajaran berbasis e_dukasi (pendidikan berbasis ICT) sehingga guru tidak lagi terfokus pada pembelajaran tatap muka (konvensional), sehingga walaupun seorang guru tidak berada di dalam kelas, pembelajaran dapat dilakukan dengan "jarak jauh", dengan menggunakan internet tentu saja jarak bukan merupakan masalah, bahkan anak didik dapat belajar kapan saja dan dimana saja sesuai kemauan anak didik.
KEPERLUAN FASILITAS GURU TAHUN 2008: 1. guru harus difasilitasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang familiar. 2. guru harus memiliki komputer (jika mungkin mobile)
E-Mail
Yth. Harpinto,
Saran Webmaster: Apa maksudnya, setiap kelas di Indonesia akan mempunyai 40 komputer (kira-kira 600-1500 komputer/sekolah), kapan? Kelihatannya dengan ICT & e-Learning kita tidak akan perlu guru lagi kan? Semoga anda mempunyai bisnis samping!
Ya memang enak mimpi, tetapi kita akhir harus balik ke bumi, di mana puluhan ribu sekolah adalah rusak atau ambruk dan 30.000 desa belum teraliri listrik. Mengapa negara maju tidak memakai sistem begini di sekolah umum? Apa mereka belum memikirkan? Ada banyak artikel di Internet mengenai masalah-masalah e-learning (bahasa Inggris). Coba menjawab kepada 12 pertanyaan yang ada di Internet Masuk sekolah saja dulu.
Pindah ke e-learning adalah seperti loncat dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya! Banyak sekali isu yang harus dihadapi, dan mutu pendidikannya???
Membaca:
"In an assessment of the status and growth for e-learning technology in various market sectors, Hasebrook, Herrmann and Rudolph (Cedefop, 2003) bluntly said of the K12 (Vocational Education and Training) sector: "Disillusionment in the US. Europe never really gets started". In a report for Cedefop on e-learning in Small and Medium Enterprises (SMEs) (Cedefop, 2003b), I commented that despite all the hopes the reality of e-learning has been less than convincing. The development of e-learning has been dominated by the metaphors of the virtual classroom and the virtual university, an over obsession with technologies and a focus on distance applications of existing learning opportunities, rather than the diffusion of learning in wider societal activities and forms. The term e-learning has become devalued to the extent where it might be more properly seen as a marketing word, rather than a description of pedagogic and learning practices. There has been very limited attention to vocational and occupational learning and the development of e-learning environments in less formal learning contexts. In an unusually candid assessment, the European Commission themselves have said:"
"After an initial period of enthusiasm, often described as 'hype', there are growing doubts about the real demand for educational e-content, and about its relevance for improving learning."
|
"hype" - Retorika
Ref: e-Compete Wales - Issues in e-learning
Sebenarnya solusinya adalah guru harus lebih "terfokus pada pembelajaran tatap muka (konvensional)" dan miningkatkan mutu KBM, kan? E-Learning bukan solusinya.
Salam Pendidikan!
Ini adalah saran-saran asli dari lapangan, berikut saran kami terhadap hal-hal e-learning:
RE: "1. Kami "ingin melengkapi sistem pendidikannya dengan elearning"
Apa namanya ini 'melengkapi pendidikan', atau 'putus asa'? Melengkapi artinya sudah ada pendidikan yang bagus dan ini sebagai tambahan supaya lebih lengkap. Apakah pendidikan dan sistim pendidikan sekarang sudah bagus?
"2. kelemahan pendidikan sekarang adalah:
-Kegiatan KMB terlalu fokus di kelas pada waktu tertentu dimana pengajar dan siswa harus berada ditempat yang sama pada waktu yang sama (kendala ruang dan waktu)
-Siswa lebin cenderung pasif karena materi fokus pada pengajar (kurang
mendukung belajar mandiri)"
Dengan keadaan begini, solusinya bukan e-learning (tambah beban untuk
siswanya). Apakah anda merasa siswa-siswi dapat belajar lebih baik dari
"machine" daripada orang?
Solusinya adalah kita harus bekerja keras untuk memperbaiki keadaannya.
Coba: http://MBEProject.Net - kita dapat berhasil!
RE: "3. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran"
Sebaiknya coba e-learning dulu, sangat sulit membuat bahan yang efektif dan menarik. Kelihatannya gampang tetapi e-learning biasanya sangat cepat membosankan pelajarnya.
Sudah lama kami mendaftar "e-pendidikan.com" untuk e-learning tetapi sampai
sekarang kami merasa itu sangat tidak prioritas dan kita lebih baik fokus kepada memperbaiki pendidikan di sekolah dulu.
RE: "-Pembelajaran dari mana dan kapan saja (fleksibel)."
Untuk sebagian kecil masyarakat yang punya "akses" dan "self-discipline"
yang "luar biasa".
RE: "-Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience)."
Apa, dalam bahasa Indonesia - global audience?
RE: "-Evisiensi biaya (akomodadi dan transportasi)"
Untuk yang punya Internet di rumah, mungkin. Apakah semua atau kebanyakan siswi-siswa di daerah anda punya akses Internet di rumah? Apakah mereka akan rajin membagi 6 - sampai 8 jam sehari di Internet (kalau ada bahan - belum)? Biayanya berapa?
Mohon baca ini: "Telkom Tetap Berperan ..."
Sudah ada terlalu banyak retorika mengenai e-learning, tetapi kenyataannya
bagaimana sampai sekarang? Apakah anak-anak yang menggunakan Internet dapat lebih berhasil di UN? Soalnya ada banyak pihak bisnis yang akan sangat beruntung kalau prioritasnya pendidikan adalah Internet dan teknologi, tetapi ingat itu masa depan anak-anak kita yang penting, bukan kantong mereka!
Apakah anda tidak setuju bahwa lebih baik dan penting fokus kita adalah kepada meningkatakan mutu pendidikan di tingkat sekolah dulu? Silahkan kontak kami!
Informasi Lanjut: Internet Masuk Sekolah - Mengapa?
(Draft 16-10-2007)
Di UpDate: 21-9-2008
Salam hormat
Phillip Rekdale
|