SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiPendidikan Network IndonesiaE-Teknologi IndonesiaTeknologi & PendidikanMajalah Teknologi IndonesiaPenelitian Indonesia
Ke Halaman UtamaIsu-Isu Teknologi PendidikanDikotomi Teknologi PendidikanTujuan Teknologi PendidikanInternet Masuk SekolahKegiatan Belajar Mengajar (KBM)
 Home & Situs Jaringan
 Database Teknologi TIK
 Berita Teknologi TIK
 Informasi Baru
 Tentang Kami
 Resources/Articles/Data
  
Komputer
Pendidikan dan Komputer
Lembaga/Sekolah Komputer
Pelayanan IT / Komputer
Software Komputer
Hardware Komputer
Teknologi Terkait
Pesan dari Lapangan

Internet
Pendidikan dan Internet
Kiat Mendapatkan Dana
Pelayanan Desain Website
Pelayanan Website Hosting
Internet Service Provider
WAN Kota & Desa

Homepage
Membuat Homepage
HTML & JAVA

Teknologi Belajar
Garis Besar
Peralatan Audio-Visual
Bahan Audio-Visual
Lab IPA dan Komputer

Laboratorium Bahasa
Pendahuluan
Masalah2 Lab Bahasa
Model Baru
Model LabB/Self-Access
Manual LabB UpGrade
Perawatan Preventif
Model Bahan Sedehana
Suplier Lab Bahasa

WW-Web
Teknologi Pelajaran
Sumber Bahan Guru
MOO-MOO Pendidikan
Direktori Web
Mengajar K-12
Organisasi
Conferensi
Majalah
Papers

Belajar Jarak Jauh
Desain Bahan Pengajaran

Language Learning
Menggunakan Web
Sumber Bahasa Indonesia

CALL
Computer Aided Language Learning
Hal-Hal Umum
Sumber-Sumber / Informasi
Contoh-Contoh di Web

Lain-Lain
Ikut Forum Komputer
Links Pendidikan
Forum Pendidikan

  
 E-Mail Pendidikan Gratis
  
Nama:
Panggilan:

Nama@Pendidikan.zzn.com
Login:
Password:

Nama@Pendidikan.zzn.com
  
 Belajar di Luar Negeri
  



  
 Kurikulum Internasional
  

GAC - International Curriculum

ACT Education Solutions
International Curriculum
Specialists


  
 Penerbangan Indonesia
  
Penerbangan di Indonesia

  
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

Ilmu Teknologi Pendidikan

"Pembelajaran Yang Standar Dunia"
(TTG & PAKEM)

"Teknologi Tepat Guna (TTG) sudah ada di semua sekolah di Indonesia, guru-guru hanya perlu belajar caranya menggunakan TTG secara efektif. Ini Peran SDM Teknologi Pendidikan (TPers) yang sangat dapat membantu negara kita sekarang. Ref: "Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar :: Pembelajaran Aktif" dan Contoh Pembelajaran Yang Mengaktifkan Siswa."

Mari Kita Menggunakan Strategi / Metodologi TTG (Yang Berbasis-Pedagogi):
(TTG Adalah Cara Terbaik Untuk Mengintegrasikan Teknologi Dalam Pendidikan)


Kayaknya kita sudah dicuci-otak dan hanya memikirikan teknologi yang canggih, padahal dengan rasio "satu komputer untuk 2.000 siswa", mengapa dipikirkan?

Kita sebagai Profesional di Bidang Teknologi Pendidikan adalah bertanggungjawab untuk membantu guru-guru maupun siswa-siswi di lapangan sekarang, dan TTG bersama PAKEM dapat menciptakan pembelajaran yang standar dunia.

Mata Pelajaran TIK (ICT) adalah penting untuk semua anak-anak dan kebanyakan sekolah belum mempunyai cukup komputer untuk melaksanakan itu saja. (mungkin pada tahun 2015, mungkin :-). Tetapi masih akan jauh sekali dibawah kebutuhan untuk menggunakan "TIK di semua sekolah Untuk Pembelajaran" . (Mungkin bisa pada tahun 2020-2030, padahal semua teknologi sekarang akan ketinggalan jaman (obsolete) dan perlu diganti, kan?). Dan Biaya Perawatan Berapa? Banyak sekolah di desa (maupun di kota saja) sudah sulit melaksanakan perawatan dasar, kan?

"Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll", "Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW)
Kelihatannya makin lama makin banyak sekolah yang rusak!

Pilihan Teknologi Tepat Guna adalah sangat terkait dengan Keadaan dan Tujuan Pendidikannya. Pembelajaran Berbasis-ICT Di Kelas Sekolah Umum Barangkali Adalah Pilihan Teknologi Yang Paling Tidak Tepat Guna Karena Infrastrukturnya Tidak Ada, Mahal Sekali, Biaya Perawatan Mahal Sekali, Maupun Dari Aspek-Aspek Pedagogi.

Apakah, Pembelajaran Berbasis-ICT Di Sekolah Masuk Akal? Solusinya?

SANGAT PENTING:
Belajar Caranya Menggunkaan TTG dengan baik (dan ilmunya) adalah cara yang juga terbaik untuk menyiapkan guru untuk menggunakan teknologi canggih, kalau ada
.

Walapun saya mempunyai 8 komputer, kalau saya mengajar pikiran utama selalu adalah "apa strategi yang terbaik dan bagaimana pelajar saya akan paling aktif dalam pembelajarannya", dan strategi-strategi saya jarang menggunakan komputer. Komputer hanya adalah "salah satu alat yang dapat dipakai atau tidak".

Mari kita membantu sekolah dan siswa-siswi kita sekarang dengan TTG (Yang Benar)!

Salam Teknologi Pendidikaan

Pembelajaran Aktif dan TTG Adalah Baik Untuk Semua Tingkat Pendidian

Klik Di Sini

Contoh Kegiatan-Kegiatan PAKEM Yang Di Luar Kelas



Saran / Pertanyaan Dari Lapangan

Phillip Rekdale @Erma Oet: Terima kasih.

Re: "Pak Phillip: kalo boleh saya bertanya, apakah teknologi tepat guna, dan teknologi pendidikan itu harus selalu dikaitkan dengan komputerisasi?"

"Teknologi Tepat Guna" tidak terkait dengan teknologi tertentu sama sekali (dan TTG adalah ilmu dasar Teknologi Pendidikan), itu sebabnya TTG dapat berhasil di sekolah yang mana saja, di mana saja di seluruh dunia dan "sekarang".

Kayaknya kita sudah salah paham, mungkin oleh karena marketing dari bisnis, oleh orang-orang dengan kepentingan sendiri, atau dari akademik dari luar negeri di mana pendidikan bermutu sudah dicapaikan oleh TTG dan PAKEM, dan teknologi canggih hanya sebagai percobaan tanpa resiko karena pendidikan bermutu sudah dijaminkan oleh pembelajaran di kelas yang sudah bermutu (Oleh PAKEM dan Guru Yang Mampu). Mungkin juga karena isu-isu seperti saya sebut di artikel mengenai "Cargo Cult".

Kebanyakan guru (sebetulnya saya berani bilang semua "good teachers") di negara maju masih menggunakan teknologi seperti "realia" (barang asli), peraga sederhana, apa lagi papan tulis dan kertas (sebagai media). Apalagi di dunia pembelajaran bahasa. Empat (4) tahun yang lalu saya kaget melihat guru-guru yang tahun 1997 sibuk membuat bahan komputer "CALL" sudah balik ke kertas (dengan imaginasi guru) sebagai media yang paling efektif.

Semua produk teknologi, termasuk kertas, digunakan dalam prinsip-prinsip Teknologi Tepat Guna, dan pada umum yang sederhana sering adalah jauh lebih efektif untuk membangun kreativitas oleh pelajar sendiri dibanding teknologi yang canggih di mana pelajarnya biasanya belajar secara pasif dan mereka hanya disuap-suap saja. http://teknologipendidikan.com/kebijakan-ict.html

Teknologi canggih seperti komputer hanya adalah salah satu alat yang dapat dipakai atau tidak! Dan kalau komputer tidak dipakai sebagai alat saja, sesuai pedagogi dan prinsip TTG, dapat merendahkan mutu pembelajaran.

Sebetulnya di Sektor Pendidikan Umum (TK-PT), kecauli kalau mengajar Mata Pelajaran TIK, kita tidak perlu memakai komputer di kelas. Semuanya dapat diajarkan tanpa komputer. Pembelajaran di kelas yang Berbasis-Guru yang mampu, masih adalah cara belajar yang terbaik. Diskusi: http://teknologipendidikan.com/solusi.html#ilmuwan

Semua sektor perlu meningkatan Pembelajaran Yang Aktif. Kalau kita melihat e-learning misalnya, yang disebut aktif adalah "manipulasikan mouse sambil berkomunikasi lewat jari sambil nonton layar komputer, dalam pembelajaran yang sangat mengatur pelajar, dengan outcomes yang di tentukan, di mana kesempatan untuk kreativitas adalah nol."

Baik buat robot, atau karyawan kalau kita mau menyampaikan informasi tertentu dan membentukkan perilakunya (seperti robot), tetapi tidak cocok di mana tujuan kita adalah meningkatkan kreativitas, dan kemandirian yang individual dan berinovasi. Apalagi Tidak Manusiawi (bersifat manusia).

Perspektif lokal:
"I am agree on all points you mentioned. Indeed, I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology (maksud beliau teknologi canggih) to achieve quality teaching/learning?'" (Totok Amin Soefijanto, 31-8-2008) - Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta. He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University - (di bagian bawah).
Ref: http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Salam Pendidikan

Ells Thea;
Stuju banget. Tapi bukan suatu hal yang mudah untuk mempersiapkan guru2 dilapangan...

Ells Thea:
Atau adakah cara yang lebih mudah???

Phillip Rekdale @Ells Thea
Kebetulan saya baru menulis di FB Winastwan Gora Swajati.

Re: "Pilot ALFHE"
"Active Learning For Higher Education"

Kemarin saya ingin tanya mengapa membuat "Pilot Program" (seperti proyek) ? Mengapa semua dosen tidak coba melaksanakan secara langsung sesuai kemampuannya? Mereka mampu belajar ilmunya sendiri kan?

Dasarnya...
Kalau anda melihat mahasiswa/i anda sedang "duduk manis terus" pasti ada masalah. Berarti mereka dalam pembelajaran yang Dosen-Centered atua LCD-Centered Learning (Pembelajaran Pasif), dan kebanayakan informasi yang disampaikan secara ini dapat ditulis dan di-photocopy, atau dikasih file dan mereka dapat kerjakan di rumah, atau di perpustakaan.

Waktu di dalam kelas adalah kesempatan untuk kerjakan / melatih, dan problem-solving maupun membahas secara langsung dalam group-group isu-isu terkait pembelajarannya sambil mendalami pembelarannya, di mana mereka dapat mengembangkan diri maupun kreativitasnya dalam prosesnya.

.......................................

Kita dapat melihat bahwa setelah puluhan tahun melaksanakan pelatihan guru, secara umum gagal kan? Apakah Metodologinya sesuai Andragogi? Mengapa bisa gagal?

Kalau melaksanakan pelatihan guru kayaknya kita angap guru kita adalah bodoh, dan perlu disuap terus. Sudah waktunya kita angap guru kita sudah dewasa dan dengan sedikit supervisi dari Kepsek, dan informasi dasar, mereka dapat mengembangkan diri.

Pasti ada sebagian yang tidak berniat, dan terus terang untuk mereka sebaiknya mereka mencari karir yang lain karena kalau melatih mereka juga sampai tua kita tidak dapat berhasil.

Saya pernah menyaksikan MGMP di salah satu sekolah di Jakarta yang termasuk favorit, dan ada guru yang mengajar guru-guru lain mengenai pendulum (fisika) dan guru yang mengajar, mengajarkan sesuatu yang salah (fatal sebetulnya). Padahal yang benar ada di buku siswa. Akhirnya saya harus tanya-tanya supaya gurunya (dan yang dilatih) tahu yang benar. Bagaimana kalau semua guru menyampaikan yang salah ke semua siswa-siswinya?

Kalau guru tidak tahu isinya buku siswa saja bagaimana? Apa alasannya? Menurut saya ini adalah "legacy" (kebiasaan) dari pardigma di mana mereka tidak diangap bertanggungjawab untuk ilmunya sendiri. Sama dengan isu profesionalisme. Mereka dapat ikut program profesinalisme guru dan mereka mendapat sertifikat, tetapi apakah perilakunya dan kemampuannya sudah ditingkatkan, apakah sudah meningkatkan profesionalisme?

Ayo, guru kita sudah dewasa, mari kita angap bahwa mereka dengan sedikit binaan profesional (dari Kepsek) dapat meningkatkan kemampuan secara kemandirian. Memang kemandirian adalah sesuatu yang kita ingin mengembankan dalam siswa-siswi kita juga kan?

Apalagi ini cara yang dapat dilaksanakan secara sangat murah.

Salam Pendidikan

Erma Oet;
Pak Phillip: kalo menurut saya... yang namanya belajar berarti ada proses memproduksi dan transformasi. Jadi guru yang baik adalah guru yang dapat menghasilkan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh siswanya, so siswa belajar sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan transformasi berarti ada proses perubahan perilaku siswa ke arah yang positif tentunya.... sehingga ia menjadi apa dan bagaimana kelak (terkait dengan masalah aktualisasi diri dan karakter)....

Ells Thea;
Betul Pak, trimakasih. Memang benar supervisi kepsek adalah amat penting.

Yayat Ahadiat;
Iya pak, bagaimana dengan BTE (Basic Technology Education)/Pendiikan Teknoogi Dasar ( PTD) yang pernah dicobakan pak? keyaknya kalo di nasionalisasi untuk SD dan SMP bagus tuh...kan sudah ada contohnya.... ( meskipun kayaknya sih balik lagi ke pengadaan fasilitasnya...he..he) oh iya metoda yang dipakai disitu kalo enggak salah sih... problem solving.... di sempurnakan jadi PGBU ( Pikir Gambar Buat Uji)

Phillip Rekdale @Erma Oet - Terima kasih
Re: "guru yang dapat menghasilkan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh siswanya, so siswa belajar sesuai dengan kebutuhannya"

Tetapi yang memutuskan kebutuhan siswa-siswi siapa?

Isu ini adalah sangat kompleks sebetulnya dan kita hanya dapat tahu kebutuhan siswa-siswi kita kalau kita juga memberi kesempatan sebesar mungkin dalam proses pembelajaran untuk mengidentifikasikan dan menghadapi kebutuhan-kebutuhan mereka masing-masing.

Kurikulum seharusnya menjamin bahwa semua kebutuhan dasar disampaikan dalam program pembelajaran, tetapi ini juga perlu di-update terus sesuai perubahan keadaan. Satu isu yang saya kira adalah penting juga adalah kurikulum lokal, yang dapat menyesuaikan kurikulum ke tingkat propinsi, daerah, maupun dapat mencerminkan kebudayaan sekolah.

Tergantung kebutuhan lokal, kebutuhan mereka juga dapat jauh berbeda. Misalnya, apakah kebutuhan siswa-siswi SD di daerah di mana banyak lulusan SD (dan kadang-kadang belum) langsung menikah, apakah kebutuhan mereka sama dengan daerah lain? Apakah kita bertanggungjawab untuk coba menghadi dan menyiapan mereka juga?

Saya sudah coba menjelaskan mengenai isu-isu begini sedikit di: http://teknologipendidikan.com/kbm.html

Tetapi, keinginan siswa-siswi sendiri juga perlu dicampur dalam kurikulum yang dilaksanakan secara aktual kan? Seperti saya sendiri sudah mengalami dengan beberapa dosen yang tanya mahasiswa/i "What do you hope to learn from this course?". Saya selalu menggunakan strategi ini waktu saya mengajar elektronik, dan sangat penting sekali waktu saya mengajar pelajar dewasa yang sudah bekerja dalam industri.

Saya pernah mempunyai pelajar dalam kelas elektronik yang direktor/pemilik perusahaan elektronik besar dan kebutuhan maupun keinginan beliau memang berbeda dengan teknisi yang baru masuk industrinya. Jadi input ini adalah sangat penting supaya kita dapat menyampaikan kurikulum dalam konteks yang relevan dan berarti untuk semua, jadi motivasi-nya tetap tinggi.

Pernah setelah proses "clinical supervision" oleh guru dari SMA, beliau bilang bahwa beliau kaget dengan tingginya motivasi pelajarnya dibanding pelajar-pelajar di SMA. Memang saya mengajar elektronik kepada pelajar yang sangat perlu ilmunya, tetapi kayaknya yang paling menarik adalah waktu saya membagi pengalaman saya yang mengikatkan teorinya ke pembelajaran baru. Jadi mereka mengerti relevansi. Sejak itu saya terus mencari solusi-solusi untuk meningkatkan motivasi dan relevansi (kontekstual), partisipasi dalam pembelajaran, maupun partisipasi mereka dalam tujuan pelajarannya.

Re: "siswa belajar sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan transformasi berarti ada proses perubahan perilaku"

Memang salah satu tujuan adalah transformasi perilaku oleh karena mereka mengerti isu-isunya lebih dalam, dan mereka merubah perilaku-nya sesuai dengan analisis mereka masing-masing.

Yang fatal untuk pendidikan umum adalah kalau kita "membentukkan perilaku" yang seragam, jadi membentukkan manusia seperti robot yang selalau menunggu petunjuk, dan tidak dapat mandiri, tidak berpikir secara kretif / individu, dan tidak dapat mengaktualisasikan diri.

Maaf kalau bahasa saya kurang bagus/tepat, tetapi itu agak sulit kadang-kadang untuk mengekpreskan diri dalam bahasa kedua dan kebanyakan kata yang saya mencari tidak ada di kamus :-)

Semoga jawabannya bermanfaat.

Salam Pendidikan

Phillip Rekdale @Ells Thea;
Re: "Betul Pak, trimakasih. Memang benar supervisi kepsek adalah amat penting"

Saya yakin kemampuan kepsek sendiri yang melaksanakan proses MBS adalah kunci untuk mengasi isu-isu seperti kemampuan guru dan metodologi pembelajaran, bukan program pelatihan guru di lokasi yang jauh dari tempat dan keadaan melaksana pendidikannya. Puncak? :-)

Apalagi MBS dapat meningkatkan sarana/prasarana sekolahnya secara mandiri.

Tetapi guru-guru jugai harus berjuang terus untuk meningkatkan kemampuan, jangan menunggu disuap ya :-)

Salam Pendidikan

Yayat Ahadiat;
iya pak trim's. Bagaimana kalau program apprentice school dib terapkn di Indonesia pak? atau mengadopsi program TAFE untuk guru-guru di Indonesia pak ?

Phillip Rekdale @Yayat Ahadiat;
Re: bagaimana dengan BTE (Basic Technology Education)/ Pendiikan Teknoogi Dasar ( PTD) yang pernah dicobakan pak? keyaknya kalo di nasionalisasi untuk SD dan SMP bagus tuh...kan sudah ada contohnya...."

Pendidikan "Mengenai Teknologi" adalah kebutuhan semua anak-anak, itu sebabnya saya ingin pemerintah kita fokus kepada isu-isu yang betul penting termasuk sekolah-sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif untuk semua, maupun coba mencapaikan target seperti "satau komputer untuk 20 siswa" (1:20) pada tahun 2015.

Tetapi kalau kita menghitung jumlah komputer itu, biayanya, dan biaya perawatan terus, kita harus tanya kalau dicapaikan, apakah target itu "sustainable" di kebanayan sekolah yang sedang kurang dana untuk merawat sekolahnya? (Sebetulnya ada sulusi tetapi kita belum siap melaksanakan - dan ceritanya panjang :-)

Jadi, kita harus sedikit kreatif. Kita harus mulai mencari solusi-solusi yang sustainable dan sesuai ekonomi. Untuk sebentara, maupun masa depan. Mungkin salah satu strategi untuk sebentara adalah sharing faasilitas antara beberapa sekolah. Saya pernah mengalami pembelajaran begini sebagai peljar waktu saya belajar di luar negeri dulu dan kami selalu menikmat kesempatan belajar di luar sekolah sendiri. Ini mungkan dapat membantu dengan isu kekurangan guru TIK juga.

Re: "kan sudah ada contohnya"

Di negara kita sesuatu yang sangat aneh adalah kita mempunyai banyak contoh-contoh tetapi tidak pernah dilaksanakan secara nasional. Misalnya kita mempunyai banyak "Model School", tetapi sekolah yang lain di sata lingkungan saja tetap tidak meubah. Mengapa? Apakah modelnya dapat direplikasikan di sekolah lain?

Menurut saya tempat yang aman dan nyaman, dan melaksanakan MBS dan PAKEM adalah model yang baik dan dapat direplikasikan di seluruh Indonesia, mengapa terus mencari model yang mungkin tidak replicable?

Kita terus mencoba dan pilot program-program yang sudah cukup terbukti dan sangat masuk akal, tetapi dilaksanakan?

Kita perlu "affirmative action" (kebijakan) oleh manajeman pendidikan kita yang berbasis input dari semua stakeholders dan "dapat di laksanakan" (bukan mimpi).

Salam Teknologi Pendidikan

Phillip Rekdale @Yayat Ahadiat - Terima kasih
Re: "iya pak trim's. Bagaimana kalau program apprentice school dib terapkn di Indonesia pak? atau mengadopsi program TAFE untuk guru-guru di Indonesia pak ?"

Pada tahun 1984 setelah saya melihat bahwa pendidikan untuk trades (kejuruan) adalah sangat kurang saya ingin membuka sekolah untuk membantu meningkatkan standar profesionalisme "tradesmen maupun "tradeswomen" di sini. Sangat sesuai latar belakang saya, tetapi keadanya tidak sesuai pada waktu itu, yang lain tidak angap itu begitu penting. http://pendidikan.net/webmaster.html

Saya pernah belajar dan mengajar di TAFE, dan menurut saya idenya bagus. Mengapa tidak?

Salam Pendidikan

Yayat Ahadiat
Terima kasih pak, wawasan saya jadi bertambah, Salam Pendidikan..... (Kejuruan)



* Diskusi dan Saran Anda Di Facebook *





Dibuat 9 Mei, 2010
Copyright © 2008-2010

 SUARA MASYARAKAT
Latest Post
. Jurusan Teknologi Pendidi...
Latest Response
. Kiprah Sarjana Teknologi ...
 Pendidikan Kelas Dunia
  
Pendidikan Kelas Dunia
  
 HASIL POLL TEKNOLOGI
  
Prioritas Teknologi

  
 HASIL POLL PORNOGRAFI
  
Pornografi & Internet

  
 SURVEY SEKOLAH 2010
  

Apakah Sekolah Anda:
belum punya Internet
sudah punya Internet


  
 SURVEY GURU 2010
  

Apa Kebutuhan:
Guru Tahun 2008?
(menulis saran anda)


  
 Saran/Chat/Info Online
  


  
 Website Kami & Kegiatan
  
Sains.TV

E-Pemerintah - Menuju E-Government

Artikel-Artikel Teknologi





Mencari Lowongan
Memasang Lowongan Kerja



Mencari Beasiswa
Meminta Bantuan Beasiswa
Membantu dengan Beasiswa

Sekolah Internasional
Sekolah Nasional Plus

Keinginan Mutasi Guru & Dosen

Membaca - Mengirim Saran

Mad Scientist

  
 Link-Link Umum Baru
  
Link Pendidikan Baru
WWW for Teachers
Classroom Connect
Digital Education Network
The Global Schoolhouse
BBC Education Homepage
The Teacher Website
PC Magazine Online
PC World Online
Sekolah Peradaban Cilegon
WWWebster Dictionary
Dictionary.com
On-line Dictionary
The Maths Archives
Interactive Maths
Windows Magazine
ZDNet
PC Webopaedia