Pendidikan Nade EasyTujuan PendidikanMetodologi PendidikanGuru BermutuPendidikan Network IndonesiaMajalah Teknologi IndonesiaTeknologi Tepat Guna
Ke Halaman UtamaIsu-Isu Teknologi PendidikanDikotomi Teknologi PendidikanTujuan Teknologi PendidikanInternet Masuk SekolahKegiatan Belajar Mengajar (KBM)
 Home & Situs Jaringan
 Database Teknologi
 Berita Tekno Pendidikan
 Tentang Kami
 Resources/Articles/Data
  
Komputer
Pendidikan dan Komputer
Lembaga/Sekolah Komputer
Pelayanan IT / Komputer
Software Komputer
Hardware Komputer
Teknologi Terkait
Pesan dari Lapangan

Internet
Pendidikan dan Internet
Kiat Mendapatkan Dana
Pelayanan Desain Website
Pelayanan Website Hosting
Internet Service Provider
WAN Kota & Desa

Homepage
Membuat Homepage
HTML & JAVA

Teknologi Belajar
Garis Besar
Peralatan Audio-Visual
Bahan Audio-Visual
Lab IPA dan Komputer

Laboratorium Bahasa
Pendahuluan
Masalah2 Lab Bahasa
Model Baru
Model LabB/Self-Access
Manual LabB UpGrade
Perawatan Preventif
Model Bahan Sedehana
Suplier Lab Bahasa

WW-Web
Teknologi Pelajaran
Sumber Bahan Guru
MOO-MOO Pendidikan
Direktori Web
Mengajar K-12
Organisasi
Conferensi
Majalah
Papers

Belajar Jarak Jauh
Desain Bahan Pengajaran

Language Learning
Menggunakan Web
Sumber Bahasa Indonesia

CALL
Computer Aided Language Learning
Hal-Hal Umum
Sumber-Sumber / Informasi
Contoh-Contoh di Web

Lain-Lain
Ikut Forum Komputer
Links Pendidikan
Forum Pendidikan

  
 E-Mail Technolgy Gratis
  
Name:
Surname:

Name@Technology.zzn.com

Login:
Password:

Name@Technology.zzn.com

  
 Belajar di Luar Negeri
  



  
 Penerbangan Indonesia
  
Penerbangan di Indonesia

  
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

Teknologi Pendidikan

"ICT adalah Teknologi yang "Paling Tidak Tepat Guna" untuk Pembelajaran di Sektor Pendidikan Umum"

ICT adalah teknologi yang "Paling Tidak Tepat Guna" untuk Pendidikan Umum Yang Bermutu di Indonesia, kan? ICT dapat membunuh kreativitas, sangat terbatas oleh kekurangan infrastruktur, maupun biaya perawatan yang sangat mahal, banyak sekolah tidak dapat merawat sekolah saja, maupun ratusan komputer (puluhan juta komputer secara nasional)....

Dengan rasio: "Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" itu jelas bahwa pembelajaran oleh komputer & e-learning bukan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah secara nasional, kan? Jadi mengapa Kemendiknas memikirkan, maupun mendorongkan?

"Jardiknas???"
(Sekretaris Jenderal Depdiknas Doddy Nandika)

"Dodi menambahkan, di daerah-daerah terpencil infrastruktur-infrastruktur dasar tersebut masih banyak yang belum tersedia. Padahal, total sekolah yang ada di Indonesia mencapai sekitar 300.000 unit dari jenjang dasar sampai atas."

Setelah 3 tahun baru 18.000 dari 300.000 sekolah sambung ke Jardiknas. Muapun target utama "daerah-daerah terpencil...masih banyak yang belum tersedia". Tahun berapa Jardiknas akan siap menjadi salah satu strategi pendidikan nasional? Biayanya sampai sekarang berapa?

  • Hasil penelitian yang membuktikan bahwa Jardiknas dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah di mana? Mutu dan Jumlah bahannya bagaimana?

  • Dari 18.000 sekolah itu, berapa sekolah mempunyai rasio lebih dari 1 komputer untuk 20 siswa? Soalnya rasio 1:20 (sekarang 1:2000) adalah target Depdiknas untuk tahun 2015 dan ini hanya cukup untuk mengajar Mata Pelajaran TIK (paling 2 sampai 4 jam seminggu, kan?). Berarti sekolah-sekolah akan perlu jauh lebih banyak komputer dari 1:20 kalau ingin menggunakan komputer untuk mata pelajaran yang lain, kan?

  • Siapa yang bertangungjawab untuk pemiliharaan komputer-komputer sebanyak ini, Depdiknas? Banyak sekolah di "daerah-daerah terpencil" sedang kurang anggaran untuk memperbaiki papan tulis atau dindingnya, kan?

Ingat juga bahwa teknologi yang sudah dan sedang dipasang di sekolah barangkali akan "obsolete"
(ketinggalan zaman) dan perlu diganti dalam 5, kan? Siapa bertanggungjawab?

Apakah Rencana Jardiknas Masuk Akal?

Apakah Kebijakan Pembelajaran Berbasis-ICT Masuk Akal?

Padahal, "Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll."

"Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW) - Kelihatannya makin lama makin banyak yang rusak!
Ref: Pendidikan Network Indonesia

Itu akan cukup hebat kalau pemerintah kita dapat mencapaikan target rasio komputer / siswa menjadi 1:20 pada tahun 2015 untuk mengajar Mata Pelajaran TIK, tidak usah memikirkan sesuatu seperti Pembelajaran Berbasis-ICT, kan? Barangkali sebelum ada cukup komputer teknologi seperti yang ada sekarang sudah masuk museum.

Di mana buktinya e-learning akan bermanfaat di tingkat sekolah?

Padahal e-Learning dapat membunuh kreativitas anak-anak kita.

Yang sudah terbukti berhasil adalah:

Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Teknologi Pendidikan (Pembelajaran) yang paling bermanfaat adalah:

Teknologi Pendidikan Tepat Guna :: Jaman Kini!
(Klik Di Sini)




Beberapa Isu Teknologi Pendidikan Dari Diskusi Di Facebook


Teknologi - Solusi Yang Mencari Masalah Teknologi Pendidikan - Dinas Pendidikan Mahasiswa TP bingung - Apa Itu Teknologi Pendidikan?
Writing A Thesis or Paper - "Food For Thought" Apakah Universitas-Universitas Kita Serius Mengenai Teknologi Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa
Ketik RAMAL < spasi > PENDIDIKAN Teknologi Pendidikan Vs Teknologi Pembelajaran? Ilmuwan Teknologi Pendidikan Hilang, Maupun Ilmu-nya Diancam
Untuk TPers : Pemanfaatan TIK untuk Pendidikan Masa Depan Facebook dan Pendidikan Reminder To All Students And Parents
(Kalau Anda Ingin Membahas Isu-Isi Ini Di Facebook Kunjungi TeknologiPembelajaran.Com)

Teknologi - Solusi Yang Mencari Masalah

Re: "Teknologi Pendidikan: mobile Learning (M-Learning), Belajar Kapanpun dan Dimanapun..."

Re: "mahasiswa tidak perlu harus hadir di kelas hanya untuk mengumpulkan tugas, cukup tugas tersebut dikirim melalui aplikasi pada mobile phone yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri."
Moblie Learning, Belajar Kapanpun dan Dimanapun...
http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=125073121922&ref=mf

1. Apakah masalah penting terhadap mutu pendidikan di Perguruan Tinggi Indonesia adalah "mahasiswa harus hadir di kelas untuk mengumpulkan tugas"?

2. Apakah masalah penting terhadap kualitas proses belajar di Perguruan Tinggi adalah tidak ada "aplikasi pada mobile phone"?

3. Apakah masalah mutu pendidikan di sektor pendidikan yang mana saja adalah "kecepatan menyampaikan bahan ke pelajar?"

4. Re: "akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri"
Bagaimana m-learning dapat "meningkatkan kualitas proses belajar"? Di mana buktinya?

5. Re: "Teknologi Pendidikan: mobile Learning, Belajar Kapanpun dan Dimanapun..."
Kalau membawa buku juga bisa! Saya sudah begitu puluhan tahun....

Breaking News!!! Ada Produk Teknologi Yang Dapat Membuat Revolusi Di Bidang Pendidikan Di Seluruh Indonesia. Sekarang kita dapat belajar di manapun, di kota besar, di kota kecil, di desa, maupun di becak. Relatif kecil dan dapat masuk tas anda jadi dapat dibawa ke mana saja. Anda hanya perlu mempunyai niat belajar dan anda dapat belajar tanpa batas. Tidak perlu koneksi ke listrik dan battery dijaminkan selama hidup (katanya). Juga tidak kena ongkos layanan (Internet atau Hanfon). Tidak memakan pulsa jadi kalau anda tidur dan lupa mematikan alat revolusi pendidikan ini tidak akan kena ongkos. Alat ini juga dapat dipakai di seluruh dunia tanpa koneksi khusus. Alat revolusi ini dapat dibeli di toko dekat anda sekarang dan dapat digunakan secara langsung... dan dapat belajar sambil pulang! Ayo Beli Sekarang! (Info Lengkap Di Sini - Klik!)

Saya sudah kuliah sambil kerja selama 14 tahun dan untuk 7 tahun (external student) bahannya dikirim lewat pos biasa. Apakah saya pasti lebih pintar sekarang kalau bahannya dikirim lewat komputer atau hanfon? Saya kira tidak!

Apa untungannya?

Mungkin untungannya adalah ongkosnya mengirim bahan lebih murah. Tetapi belum tentu juga kalau melihat harganya teknologinya dan staf teknologi.

Bila dikirim lewat pos atau hanfon ongkos mengirim bahan adalah sebagian yang sangat kecil dalam ongkos kuliah - mengapa dipikirkan?

Ini sebagai masalah utama di "technology-driven society", apa lagi di pendidikan yang "technology-driven".

Sering teknologinya baru muncul dan banyak orang sudah sibuk mencari kebutuhan (aplikasi), apa lagi di bidang pendidikan karena pasarnya besar. Tetapi terlalu sering kebutuhannya belum ada dan oleh imaginasi marketer sendiri, kebutuhan dapat dibuat juga (sering dengan retorika yang hebat sekali - tanpa penelitian atau percobaan di lapangan).

Apakah proses ini tidak terbalik? Kalau ingat yang saya menulis di "Teknologi Pendidikan Profesional Itu Apa?" - "Sering dosen mempunyai konsep yang mereka ingin mengajar dan perlu modul untuk praktiknya"
(http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=119668282747&ref=mf),

Sebagai Ilmuwan Teknologi kita tidak akan mengajak mereka membuat film mengenai pembelajarannya, kita wajib untuk membantu mencapaikan keinginan mereka. Tetapi kalau dari pengalaman kita, kita sudah menyaksikan atau mengalami proses lain yang sudah berhasil boleh disebutkan untuk konsiderasi.

Tetapi kalau pengajar datang dan mengaku bahwa beliau tidak yakin teknologi yang terbaik untuk menjalankan proses pembelajaran yang paling efektif, baru kita boleh menyediakan beberapa pilihan. Tetapi jangan sebagai "pedaggang teknologi yang terbaru" karana belum tentu dalam situasi beliau (atau time-frame beliau) itu adalah solusi yang terbaik. Kita harus tahu banyak mengenai situasi beliau dan kemampuan beliau untuk menggunakan teknologinya, dan mengintegrasikan ke dalam pembelajaran.

Tujuan sebagai profesional adalah menemui kebutuhan secara paling efektif. Sering rekomendasi saya adalah menggunakan teknologi yang sederhana yang saya tahu dari pengalaman mengajar mengajak proses pembelajaran yang sangat aktif, efektif, dan menyenangkan.

Tujuan melaksanakan pendidikan utama seharusnya untuk membuka pikiran, imaginasi dan kreativitas, bukan untuk membentukkan seorang. Dan oleh pengertian teknologi yang cocok kita mempunyai kesempatan untuk memberi kontribusi yang sangat besar.

Satu hal lagi adalah pilihan teknologi juga harus cocok dengan kepribadian (personality) pengajar. Kadang-kadang teknologi yang berhasil dengan satu pendidik belum tentu cocok untuk pendidik lain. Isu ini perlu cerita panjang untuk menjelaskan tetapi sangat tergantung "dinamiks yang biasa antara pendidik tertentu dan pelajarnya".

Saya sendiri kalau mengajar lebih mengarah ke teknologi yang sederhana karena saya menyukai proses mengajak kontribusi yang paling besar mungkin dari pelajarnya sendiri (saya tidak suka proses suap-suapan). Saya lebih banyak tanya daripada ngomong.
http://TeknologiPendidikan.Com/teknologi.html

Kalau orang lain mungkin lebih suka dan lebih "confident" dengan bahan dan teknologi lengkap yang sudah disiapkan.

Teknologi Pendidikan adalah profesi yang sangat penting dan kita wajib untuk menjaga profesinya tetap profesional dan kita sendiri tidak hanya menjadi "joki teknologi baru".

Saya pernah sebut bahwa mutu pendidikan tidak terkait dengan teknologi. Maksud saya mutu pendidikan tidak tekait dengan teknologi yang paling canggih atau paling sederhana, tetapi 100% tergantung mutu strategi dan cara melaksanakan program pembelajaran. Misalnya, saya pernah menyaksikan pelaksanaan program e-learning di mana pelajar merasa tersiksa ikut programnya.

Sering kali, walapun pada awalnya pelajar sangat enthusias, setelah ikut beberapa kali pelajarnya sudah mulai bosen dan anggap e-learning itu adalah beban.

Sebaiknya kalau lagi mencoba program e-learning baru, menyiapkan program alternatif juga supaya ada variasai (dan backup kalau pelajarnya sudah bosen).

Walapun disebut multimedia dan interaktif, duduk di kursi yang sama dan kerjain program tugas secara rutinitas juga dapat cepat membosankan.

TPers Mohon Ingat: Tidak Ada Teknologi Yang Dapat Mengganti Guru, Tidak Ada Teknologi Yang Adalah Solusi Untuk Semua Pendidikan, Tetapi Semua Macam Teknologi (Appropriate) Dapat Sebagai Solusi Untuk Pendidikan, Tergantung Mutunya Manajemen Pembelajaran.

Informasi Lanjut (19-2-2010): "Mobile E-Learning Will Go Away" : M-Learning

Salam Pendidikan
Phillip Rekdale

Pertanyaan: Apakah belum cukup "Gangguan Jiwa Gara-gara Facebook dan Blackberry" ???

Diskusi:

Agus Triarso; Apapun Media pembelajarannya porsinya sbg suplemen bukan menggantikan guru. So? Penggunaan media pembelajaran disesuaikan dg situasi dan kondisi dg tujuan tersampaikannya kompetensi kpd user dg baik (efektif dan efisien...)

Phillip Rekdale; Terima kasih pak. Re: "porsinya sbg suplemen bukan menggantikan guru" Ya, memang, saya tidak punya masalah dengan itu, itu hanya saran ke orang TP seperti moto. Masalahnya menurut saya adalah fokusnya ke e-learning walapun rasio komputer/siswa adalah 1:2.000 berarti e-learning "untuk semua" tidak mungkin sekarang. Padahal teknologi yang ada tidak digunakan secara efektiv. Fokus oleh pemerintah ke isu yang kelihatannya tidak bisa jadi strategi nasional yang efektif dalam 10 tahun kelihatannya counterproductive. Lebih baik meningkatkan kesadaran guru bahwa mutu pendidikan tidak tergantung teknologi tinggih, dan meningkatkan mutu pendidikan di lapangan dengan appropriate technology yang ada.

Yang penting dulu pemerintah fokus kepada target rasio komputer / siswa menjadi 1:20 pada tahun 2015 itu supaya kita dapat melaksanakan program pembelajaran "mengenai TIK" di semua sekolah yang sangat-sangat penting. Salam

Saya sangat berharap bahwa jumlah lulusan Jurusan Teknologi Pendidikan (Khusus Appropriate Technology) dapat ditingkatkan secara cepat dan kita dapat melaksanakan program meningkatkan kemampuan guru oleh Teknologi Pendidikan Appropriate yang sangat penting di Semua Propinsi.

Pertanyaan dari lapangan: "Pak Rekdale, Bagaimana kalau Anda membuat pelatihan bagi guru-guru dengan topik "Teknologi Pendidikan Tepat Guna : Memanfaatkan Sumber yang Ada untuk Efektifitas Pembelajaran"? Kalau Anda bersedia nanti saya carikan guru-guru yang mau mengikuti pelatihan tersebut. Salam"
Saya? Mengapa tidak bertanya ke Depdiknas?
Apa "Teknologi Pendidikan Tepat Guna" menurut Depdiknas?
Rektor-Rektor Indonesia, Kita sangat perlu banyak SDM Teknologi Pendidikan khusus Appropriate Technology.

Kalau saya adalah Dekan Fakultas Teknologi Pendidikan saya pasti anggap pemintaan di atas "Teknologi Pendidikan Tepat Guna" sebagai kegiatan yang baik buat lingkungan pendiikan maupun pelatihan baik untuk mahasiswa-mahasiswi semester akhir. Membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan begini dapat sebagai assessment item juga (tetapi tidak usah). Kalau mau info kontak silakan kontak saya.

Kita Perlu Bagian Teknologi Di Dinas Pendidikan Di Semua Propinsi

Teknologi Pendidikan - Dinas Pendidikan


Salah satu hal yang sangat perlu dilaksanakan sekarang adalah membuat bagian khusus Teknologi Pendidikan di dinas pendidikan di semua propinsi dengan tenaga khusus teknologi pendidikan yang dapat meningkatkan kemampuan guru-guru untuk memaksimalkan teknologi yang cocok (appropriate technology).

Mereka tidak perlu peralatan khusus untuk meningkatkan kemampuan guru untuk melakasanakan pembelajaran efektif yang menggunakan teknologi yang sudah ada di sekolah.

Saya sudah mengunjungi ratusan sekolah dan jarang sekali teknologi yang ada digunakan. Yang mempunyai Laboratorium Bahasa saja (1.000 sekolah lebih) jarang memakai lab secara benar, kalau labnya masih dipakai.

http://pendidikan.tv/comments.html

http://e-pendidikan.com/llabp.html

Program ini mempunyai kesempatan besar untuk meningkatkan mutu pendidikan di semua sekolah maupun meningkatkan pengertian guru-guru mengenai artinya "Teknologi Pendidikan".
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Awang SuarnaNah; gitu dong... Cari jawaban atas pertanyaan "Sejauh mana sih TP bisa diimplementasikan dlm dunia pendidikan?". Tdk hanya ada dalam tataran konsep.. Aplg kalo cm dibicarakan dalam lingkaran pagar kampus perguruan tinggi. Kapan TP dikenal publik?.. kpn profesi TP diakui pemerintah?... kpn Lembaga2 pendidikan mau menerima Profesi TP sebagai bagian yg harus ada di lembaga itu???

Menurut saya "TPers yang siap" dapat mempunyai peran yang sangat penting untuk perkembangan mutu pendidikan sekolah untuk semua anak. Asal kita lepas dari yang tidak penting dan tidak mungkin sekarang, dan fokus kepada yang dapat di laksanakan dan pasti meningkatkan mutu pendidikan - Menggunakan Teknologi Yang Ada Secara Efektif. Dari ini - TP pasti akan "dikenal publik".

"Sejauh mana sih TP bisa diimplementasikan dlm dunia pendidikan"
Tidak terbatas!!! Kita perlu mulai dengan meningkatkan hubungan Calon TPers dengan lingkungan pendidkan (mungkin dari semester ke2/3) supaya mereka betul-betul mengerti keadaan dan isu-isu TP di lapangan. Dari saran-saran yang saya membaca kelihatannya yang dibahas terus tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Bagaimana TP dapat berperan di dunia pendidikan di Indonesia kalau pelaksana TP adalah dari Planet Lain? Yang dibahas adalah isu-isu seperti e-Learning dan m-Learning sekarang tetapi di lapangan kebanyakan pendidik tidak tahu caranya mengunkan teknologi yang ada, maupun mereka tidak sadar bahwa otak, imaginasi, dan kreativitas guru adalah teknologi yang paling canggih dan mampu mengatasi semua isu yang terkait dengan pembelajaran.
http://TeknologiPendidikan.Com/teknologi.html

Apa Itu Teknologi Pendidikan?


Mahasiswa TP bingung - Teknologi Pendidikan Profesional Itu Apa?

Sejak saya membaca artikel "Mahasiswa Baru TP bingung tentang TP" kemarin saya tidak habis pikir, bukan hanya mahasiswa, tetapi kelihatannya banyak pihak di lingkungan teknologi pendidikan juga bingung.

Waktu saya masuk bidang elektronik di salah satu universitas tahun 1971 saya kira ini pekerjaan elektronik biasa, seperti bekerja di perusahaan atua di pabrik. Saya tidak tahu ini akan merubah kehidupan saya selama hidup. Elektronik sudah hobi saya sejak umur 12 tahun, dan pada waktu itu hobiny adalah membuat Crystal-Set (radio memakai satu diode germanium).

Tahun 1971 saya bekerja di Fakultas Electrical dan Electronic Engineering, dan tugas kami pada waktu itu adalah membuat modul-modul untuk pembelajaran elektronik. Sering dosen mempunyai konsep yang mereka ingin mengajar dan perlu modul untuk praktiknya. Kami biasanya membahas beberapa pilihan (option) dulu dan membuat modul sesuai dengan yang dosennya merasa adalah terbaik.

Tetapi, seperti sering terjadi di bidang pendidikan, yang kita merancang dalam teori tidak sesuai dengan kenyataan karena isu-isu kemanusiaan (human factors). Mengatasi isu-isu teknologi menarik, tetapi yang paling menarik adalah mengatasi tantangan-tantangan (the challenges) dan isu-isu kemanusiaan. Yang saya paling suka di bidang elektronik maupun teknologi pendidikan adalah menghadapi tantangannya dan mengatasi dengan "solusi yang cocok dan tepat".

Menurut saya ini profesionalisme, dan kita sebagai Ilmuwan Teknologi Pendidikan hanya dapat menjadi profesional kalau kita mempunyai kemampuan tinggi untuk mengatasi segala macam tantangan pembelajaran dengan teknologi yang cocok dan tepat.

Misalnya waktu saya mengajar elektronik dan topiknya arus, teggangan, dan tahanan saya selalu membawa botol-botol plastik yang mempunyai lobang yang diisi air. Dengan model simple begini semua pelajar menanggap prinsipnya cepat karena mereka dapat melihat kenyataan dan rasain sendiri (main dengan airnya), dibanding menonton film atau media yang kurang memuaskan tujuan saya sebagai gurunya.

Dua (2) tahun yang lalu waktu saya mengajar bahasa Inggris di Australia, kalau ada isu yang perlu dijelaskan di luar perencanaan saya sering menggunakan mebel-mebel atau apa saja yang ada di ruangan sebagai "teaching aid" (bantuan pembelajaran). Misalnya prepositions - mengganti posisi kursi dan salah satu meja di kelas. Listening - saya cepat angkat HP saya dan ngomong keras seperti dalam stres "Adu.......". Strategi ini sangat mendapat perhatian semua pelajar dan mereka sangat rajin mendengar percakapannya. Setelah itu saya bertanya-tanya mengenai percakapannya, sangat efektif! Kadang-kadang ruang saya adalah sangat berantakan, tetapi guru-guru lain anggap saya guru yang profesional karena menggunakan semua "resources" yang ada, dan yang paling penting pelajar-pelajar adalaah aktif dalm proses pembelajaran, maupun enjoy. "Semuanya" dapat digunakan sebagai Teknologi Pembelajaran.

Peraga dan "prop" misalnya kertas yang dipotong-potong, kertas besar, realia (barang asli - di mana praktis), OHP (film OHP bagus karena pelajar dapat menyiapkan bahan cepat untuk presentasi dalam kegiatan kelompokan tanpa mahalnya teknologi tinggi yang prosesnya biasanya lebih lambat dan kurang fleksible (mobilitasnya)), Video - gampang diatur oleh guru dengan remote untuk setop, rewind, setel video tanpa suara (strategi yang sangat bagus untuk mengajar bahasa), dlllll.........

Ini namanya pembelajaran yang aktif dengan banyak variasi. Banyak pembelajaran spontan muncul dari pembelajaran di kelas yang kreatif, yang tidak dapat dicapaikan dengan "programmed learning". Ini salah satu sebabnya kalau kita ingin mengajak pelajar kita menjadi kreatif; 1) kita sendiri harus mencontohkan kreativitas 2) memberi situasi pembelajaran di mana mereka dapat mengekspresikan kreativitasnya sendiri, tanpa limitasi dan batasan oleh medium pembelajaran (misalnya komputer). Perkembangan "Social skills" dan "Group Skills" juga adalah isu-isu yang sangat penting dan salah satu keuntungan besar dengan pembelajaran Berbasis-Kelas yang menggunakan teknologi yang cocok (Appropriate).

BTW: Salah satu fenomena yang saya sering menyaksikan yang saya merasa lucu sekali adalah pasangan yang lagi nikmat waktu berdua jarang ngomong, dua-duanya masing-masing sibuk SMS ke orang lain terus. Kelihatannya ngomong lewat jarinya lebih asyik daripada secara langsung. Apa ada implikasinaya "long-term"?

Terus terang, saya tidak dapat membayangkan generasi anak Indonesia yang kemampuannya terbatas sesuai dengan kemampuan pendidiknya untuk membuat program komputer. Sangat merugikan dan membatasi ekspresi dan kreativitasnya menurut saya. Kapan Merdeka?

Sebagai Ilmuwan Teknologi Pendidikan (TPer Profesional) kita bertanggungjawab untuk memasitikan bahwa semua jenis teknologi dari yang paling sederhana (dan sering paling efektif), sampai yang paling canggih digunakan sebaik mungkin.

Kita tinggal di Indonesia di Planet Earth (Bumi) Sekarang, dan keadaan kita di bidang pendidikan sangat memprihatinkan, dan kemungkinan kita dapat mulai menggunakan e-learning di semua sekolah umum masih sepuluh lebih tahun ke depan, dan negara-negara lain sangat ragu-ragu mengenai peran teknologi sebagai cara utama pembelajaran di sekolah TK-SMA3.

Apakah kita akan menunggu sampai prediksinya "Ramal-Ramal Pendidikan" dicapaikan atau tidak, atau kita mau berjuang dan mengatasi isu-isu menggunakan teknologi yang cocok untuk meningkatkan mutu pendidikan sekarang.

Waktu saya ke sini pertama kali tahun 1983 juga ada banyak "Ramal Pendidikan" yang menunjuk teknologi terbaru sebagai solusi pendidikan. Tetapi kita sampai di mana sekarang?

Sudah waktu untuk menjadi "TPer yang Profesional" dan bergerak untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita dengan semua sumber teknologi yang ada - sekarang!

BTW: Artikel kemarin (moblie Learning, Belajar Kapanpun dan Dimanapun...) mengingatkan saya mengenai isu-isu BlackBerry yang saya beli beberapa minggu yang lalu. Karena saya mempunyai banyak website yang saya perlu memonitor kalau di luar rumah maupun di luar kota dan membawa laptop saya (15") sering membuat repot. Dari marketingnya saya kira BlackBerry adalah solusinya. Tetapi karena saya menerima banyak e-mail BlackBerrynya berbunyi terus jadi sering sangat menggangu kegiatan saya dan e-mailnya memang dapat menunggu sampai saya di rumah dan mempunyai waktu (kalau penting teman-teman saya menggunakan SMS - lebih tepat teknologinya). Kalau membuka website, adu... kalau melihat seluruh website, hanya foto besar dapat dilihat, text-nya terlalu kecil untuk dibaca. Kalau zoom-in saya tidak dapat melihat "the whole picture and context" dan akhir menilai BlackBerry tidak begitu bermanfaat (bagi saya) dan saya memberikan BlackBerry itu kepada kenalan saya yang memang orang gengsi karena ada artinya buat beliau, walapun fitur-fitur tidak dipakai sama sekali, sebagai simbol yang penting. Akhirnaya saya membeli laptop 8" dan bagus sekali.

Bacaan terkait: http://Kebijakan.Com

Ayo, Maju Pendidikan Indonesia!

Writing A Thesis or Paper - "Food For Thought"


I am frequently asked for assistance with references and information from university students and this I accept as one of the ways that students are utilizing the new technologies and I am pleased that they are searching for information using all available resources.

However, a major concern of mine for several years (till today) is that many university students are "asking me about how to write a thesis", and of even greater concern, is that "many also ask for suggestions for a thesis topic" Ehh.....

See (Mohon baca) PojokGuru.Com http://pojokguru.com/skripsi.html

I think it may be helpful at this time to raise some issues and possible thesis topics that I would chose if I was going to write a thesis about Education Technology in Indonesia. (If anyone would like to use them they are certainly welcome - need refining)

DRAFT August 22, 2009

Accepted Conditions - "Not under debate."

- The learning of ICT is an urgent national priority and the current plans to achieve a 1:20 computer / student ratio (or better) by year 2015 must be fully supported.

- A 1:20 ratio is a minimum for conducting an effective ICT learning program, but certainly insufficient to consider e-learning as a effective national educational option.

Hypothesis 1

"The high priority given to e-learning in the public k-12 education sector in Indonesia is "currently" counter-productive, and the focus of our teaching institutions upon computerised learning as a solution for improving education quality in schools is inapproriate and unsupported."

Major Issues:

- It will be at least another 10 years before there are sufficient computers in our public schools to even consider commencing a minimal national e-learning program.

- With current computer/ student ratiois 1:2,000 any real developments that may be achieved will only further widen the gap for the majority of students who don't have access or facilities.

- A clasroom Contextual learning environment is still recognized as the best form of education
http://teknologipendidikan.com/kbm.html

- Because of the high profile given to issues like e-learning by government bodies and media, the majority of teachers in the field, who don't have access to these facilities may believe that they are dis-advantaged and limited educationally.

- Frequently students who achieve national acclaim in contests, for example Olympiads, are for small towns and villages, and not from large high-tech cities or schools.
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=14&artid=1074

- We must question whether technology and all the trappings and distractions (entertainment, chatting, etc.) and time-wasting options are actually reducing the quality of learning in our communities. This is a global issue, not just an issue for Indonesia. http://E-Pendidikan.Com

- High-tech developed countries are frequently questioning the quality of their education systems and how effectively they are preparing their students academically and for their real-world needs.
http://teknologipendidikan.com

- The development of "quality" e-learning materials is extremly difficult and well beyond the abilities of most teachers in the field.

- Insufficient research has been conducted in Indonesia to support the notion that e-learning will improve education quality.
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Hypothesis 2

"Institutions teaching education technology courses are not adequately preparing their students for the real-world (Appropriate Technology) needs of our learning communities."

Accepted Conditions - "Not under debate."

1) There is a role for E-Learning in External Studies for university students residing at great distances from their campus, and for people in the workforce who need to study at times that they have available.

2) There is a very large role and market for E-Learning in the corporate sector for staff training. Many staff can not make themslves available (and it is also costly) to attend classes. For instance, Field Technical Staff, Pilots, Nurses, etc....

- But not in schools?

Major issues: (Note: Many of the issues above also relate to this topic)

Basic Reading: Do we need high-technology to achieve quality learning - certainly not!

"Indeed, I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology to achieve quality teaching/learning?'" (Totok Amin Soefijanto, 31-8-2008) Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta. He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University.
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

- Appropriate education technologies are not currently being maximized in our schools.

- Insufficient emphasis upon training for education technology students in the application of appropriate technologies.

Why is the major thrust of our teaching institutions hi-tech based?

- What are the educational implications for a technology-driven society?

- Classroom of the future - What Future?
http://teknologipendidikan.com/backpack.html

- Are we really enhancing our students education or de-skilling our students?
http://educationtechnology.us/savestime.html

- There is a lack of evidence to support the notion that e-learning in Indonesia improves learning performance.

- There are insufficient materials available currently to support e-learning programs.

- The production of quality effective learning materials is extremely difficult.

Issues for thought:

Welcome to the world of Education Technology. One of the greatest challenges for the educator (who really cares about education), is wading through all the hype (rhetoric) and finding truths.

Who is the real driving force behind technology in education?

Apakah Universitas-Universitas Kita Serius Mengenai Teknologi?

21 Agustus 2009 - Apakah universitas-universitas kita serius mengenai teknologi; UNJ website - bagian Teknologi Pendidikan - "Under construction....", UNS Fakultas Pendidikan berita terbaru 19 September 2008, UM (http://fip.um.ac.id/) Tidak Aktif, UNY Oke...... - tetapi daftar mata kuliah untuk 'Kurikulum dan Teknologi Pendidikan'??, UNS - Berita terbaru di halaman FIP - Thu, 08/21/2008 ??? Ehhh.......

Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa (Minggu, 16 Agustus 2009)


Tetapi target Depdiknas adalah 1 Komputer untuk 20 Siswa Pada Tahun 2015

Kalau pada tahun 2015 ada 1 computer untuk 20 siswa, komputer itu harus digunakan untuk belajar TIK, yang kewajiban semua anak sekolah. Berarti paling 1 - 2 jam seminggu per siswa "kalau targetnya dicapaikan", kan? Bagaimana mungkin pada tahun 2015 saja mereka dapat menggunakan komputer juga untuk e-Learning?

Belum ada kabar mengenai "30 Ribu Desa Belum Teraliri Listrik" itu, apakah Depdiknas akan menyediakan genset? Kalau sangat optimistik dan ingin membuat bahan e-Learning untuk tahun 2015 +++ di mana mungkin akan ada cukup komputer supaya siswa dapat menggunakan e-Learning - kurikulumnya apa?

~ Artikel Dari Kompas ~

"JAKARTA, KOMPAS.com — Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada tahun 2015 menargetkan satu komputer untuk 20 siswa di tiap-tiap sekolah di seluruh Indonesia.

Hal ini diakui Setditjen PMTK Depdiknas, Giri Suryatmana, sebagai salah satu usaha Diknas untuk meningkatkan mutu pengajaran di tiap-tiap sekolah lewat internet.

Sekarang kan satu komputer untuk 2.000 siswa, nah ke depan kita mau kejar 1 komputer 20 siswa. Targetnya pada tahun 2015 dan biayanya dari APBN, katanya seusai jumpa pers pemberian penghargaan Intel Education Award 2009 terhadap 6 orang guru di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Minggu (16/8).

Menurutnya, metode belajar lewat jaringan internet saat ini amatlah penting karena akses informasi yang sedemikian cepatnya dapat diperoleh saat ini dapat diperoleh dari internet.

Misal di Maluku Selatan, kalau kita bangun bangunan sekolah itu akan percuma, karena enam sampai tujuh bulan ke depan sekolah itu akan kosong karena para murid akan ikut orangtuanya berlayar. Karenanya, Bupati sana mencanangkan program guru dengan laptop untuk melakukan proses belajar mengajar, katanya.

Untuk lebih memudahkan para guru dan siswa, pihak Diknas, menurutnya, telah memasang jaringan pendidikan nasional (Jardiknas) yang berfungsi untuk mendukung jaringan internet di seluruh sekolah di Indonesia.

Dari Jardiknas tersebut para guru dan siswa dapat mengunduh berbagai macam buku dan informasi belajar mengajar. Tapi memang sampai sekarang masih ada kendala di operasinya. Tapi itu sudah bisa diakses di seluruh Indonesia, dan semua bisa diunduh dari sana, misal buku teks, pelatihan-pelatihan guru, apa saja bisa diunduh di sana, ujarnya. "

C10-09

Sumber: Kompas.Com
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/08/16/16023286/1.Komputer.untuk.20.Siswa

Re: "Dari Jardiknas tersebut para guru dan siswa dapat mengunduh berbagai macam buku dan informasi belajar mengajar. Tapi memang sampai sekarang masih ada kendala di operasinya. Tapi itu sudah bisa diakses di seluruh Indonesia, dan semua bisa diunduh dari sana, misal buku teks, pelatihan-pelatihan guru, apa saja bisa diunduh di sana, ujarnya."

Kalau buku online di-download dan cetak sendiri bukunya lebih mahal daripada buku cetakan.
Ref: http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=11&artid=1649

Phillip RekdaleE-Learning ???
Apa gunanya E-Learning sekarang? Untuk Siapa Sebetulnya?

Pada Tahun 2015, pasti kebanyakan komputer yang ada di lapangan sekarang sudah perlu diganti juga. Siapa yang bertanggungjawab untuk pemiliharaan? Kalau di banyak sekolah sekarang dana untuk mengganti papan tulis saja kelihannya kurang?

Re Saran: Terima kasih Pak Pyar Sumantri. Saya masih ingat pada Desember 2005 "Telecenter & Kemiskinan" saya sangat ingin membantu dengan program ini. Tetapi pada akhir hari kedua seminar saya menyampaikan protes; selama dua hari mereka hanya membahas teknologi, teknologinya gampang dan bukan isu yang perlu dibahas menurut saya, Cara Menyiapakan SDM yang mampu mengurus rakyat dengan baik adalah isu paling penting. Sampai di mana sekarang? Web saya: http://telecenter.cyberdesa.com/pengembangan.html Salam Pendidikan Masyarakat!

Re Saran: Pak Alim, kami sangat optimis, tetapi kalau kita tidak melihat kesalahan dari yang kemarin, bagaimana kita dapat membuat yang lebih baik untuk besok. Sudah waktu untuk maju, ayo meningkatkan mutu implementasi, merubah polar pikir "proyek", dan melawan korupsi supaya anak-anak kita akan mempunyai masa depan yang lebih baik.

Ketik RAMAL < spasi > PENDIDIKAN


Kalau anda ingin tahu bagaimana masa depan Pendidikan atau Teknologi Pendidikan di Indonesia (atau di dunia) ketik RAMAL < spasi > PENDIDIKAN dan kirim ke.... Tidak usah kirim, sarannya gratis di mana-mana.

Ada banyak pihak yang siap mejawab pertanyaan anda mengenai masa depan Pendidikan dan Teknologi Pendidikan. Tetapi jangan tanya mereka mengenai apa yang harus dilakukan masa kini, mereka kelihatannya masih bingung.

"Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" dan "Dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet" - Jelas TIK bukan solusinya, kan?

Memang di negara kita ada banyak Ramal, tetapi orang yang mau bergerak untuk mengatasi isu-isi sekarang kelihatannya kurang. Misalnya puluhan ribu sekolah yang rusak dan ambruk dan banyak sekali guru di lapangan yang perlu bantuan dengan kreativitas dan cara meningkatkan mutu pembelajaran. Apa perannya Ilmuwan Teknologi Pendidikan sekarang?

Kalau isu Ramal - Indonesia tidak unik. Di kebanyakan negara lain juga ada banyak Ramal, tetapi mereka tidak begitu diperhatikan lagi oleh guru-guru yang berpengalaman.

Saya lagi menulis artikel - silakan memasang saran anda di bawah. Terima kasih

Waaa... banyak chatting langsung mengenai topik ini tetapi sarannya belum..
Salah satu isu yang disebut tadi:
"Teknologi adalah tangan kanan manusia"
Saya setuju, dan saya punya 7 komputer, berarti 8 tangan kanan :-) Tetapi kalau tangan kanan tidak ada kita harus belajar cara untuk memaksimalkan tangan kiri kita. Sebetulnya ada banyak macam teknologi yang terjangkau dan belum dimaksimalkan. Saya merasa ini adalah peran utama TPers sekarang untuk pendidikan.... Read more Ref: http://teknologipendidikan.com/teknologi.html

Saran Garcelia Sekar Arum; Saya sangat setuju dengan artikel ini bahkan kalau boleh saya bilang dunia pendidikan indonesia sedang dalam kondisi memprihatinkan. ditambah lagi tenaga pendidiknya hanya dilihat dari segi akademis nya saja bukan dari kemampuan akhirnya jadi cari duit setelah jadi guru , buat gantiin uang kuliah gitu...hehe

Teknologi Pendidikan Vs Teknologi Pembelajaran?


Re ("The World is My Class"): Good luck! Been there..... Using the Internet in the classroom is difficult to manage and requires excellent teacher management skills and preparation - if specific learning objectives are to be achieved. (Distractions are the main learning obstacle. There are also many technical issues like student responses disappaeriang because of time-out, slow access speed, network down, komputer down, dll.... )

"It's like E-Learning, the technology is so easy, but producing quality materials that don't bore your students to death is so-so-so difficult. This, plus "the cost", plus many other "real learning issues" are why after 15 years E-Learning in 'general education' is still in its infancy."

"AmazingEdu Software (Indonesia) make some excellent E-Learning materials and are worth looking at if you have the chance. Their materials are actually created to meet the needs of the teachers - but don't forget to ask "how much work is involved", and "how they are used". "

Taufik Bambang; I hope...i can learn with u site..sori englishnya pas-pasan :)

Phillip Rekdale; Taufik: The main thing is that you try every day. Some people think that globalisation is technology, but language is the key to globalization. English will open many doors for you! Good luck

Irena Maureenyes; I've seen and tried some of their materials (AmazingEdu) and yes, they're cool... it's probably because most of the programs were created by teachers... [a very nice offer by PesonaEdu for teachers with technology ^_^] however, some teachers could not use it properly in the classroom... :(

Phillip Rekdale; Some teachers still can't use a whiteboard properly in the classroom, cluttered, and don't really undertand the actual role of a whiteboard (sounds like me when I used to teach electronics). I understood the role, but I love teaching electronics so much that I always got carried away :-)
(See Language Focus di bawah)
Can you be more specific?

Irena Maureen; hmm... 1.in my opinion... teaching with technology, and not let technology replacing the role of teachers :) 2.some teachers think that the software is already so cool that they won't need anything else...
(BTW: Phillip Rekdale: ~ Top Marks Irena - Excellent Summary! I'm truely impressed~)

Maaf Taufik Bambang, untuk ini saya ingin menggunalkan bahasa Indonesia.

Phillip Rekdale; Jangan takut! Dengan ratio: "Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" tidak perlu dipikirkan. Mungkin setalah 10 tahun lagi, baru ada cukup komputer supaya mayoritas siswa-siswi (pada umum) dapat menggunakan e-learning apa lagi sampai mengganti guru.

Dan sebelum itu, semoga kita di sini akan sadar bahwa e-learning memang bukan isu penting untuk meningkatakan mutu pendidikan di sekolah.

Phillip Rekdale; Saya tidak berhubungan dengan AmazingEdu, saya hanya menyukai bahan mereka karena

1. Mutunya terbaik dari yang saya melihat di Indonesia (kebanyakan yang lain masih seperti akhir tahun 1990an).

2. Mereka mengerti prinsip untuk mengunakan teknologi untuk "membantu mendidik", dibanding dengan Teknologi Pembelajaran. Ini yang namanya "Teknologi Pendidikan".

Phillip Rekdale; Ehhhh...... Teknologi Pembelajaran dibanding Teknologi Pendidikan... Apa maksud saya?

Salah satu dapat dipakai di semua sekolah di Indonesia (kecuali yang belum punya listrik) besok. Satunya, mungkin kita masih harus menunggu sampai 20 tahun lagi.

Phillip Rekdale; Semoga anda dapat paham yang maksud saya sampai di sini (bahasa OzIndo soalnya).

Apakah Teknologi Pembelajaran E-Learning bermanfaat untuk pendidikan di tingkat sekolah umum di Indonesia sekarang (sebenarnya)?

Apakah Teknologi Pendidikan yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan mutu pengajaran bermanfaat?

Apakah artinya Teknologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran berbeda sebenarnya?

Apa bedanya?

To be continued............. Your comments? http://www.facebook.com/note.php?note_id=115641557747&ref=mf

Language Focus: "got carried away" - terlalu sibuk dengan topik/subject (sampai lupa isu-isu komunikasi pendidikan)

Ilmuwan Teknologi Pendidikan Hilang, Maupun Ilmu-nya Diancam


Jadi Kapan Kita Akan Meluncuran Televisi Pendidikan Indonesia?

Phillip Rekdale; Re: "Jadi Kapan Kita Akan Meluncuran Televisi Pendidikan Indonesia?" Ya, saya menulis itu di http://Pendidikan.TV beberapa tahun yang lalu. Yang saya paling berharap adalah program series sains yang dapat mengajak lebih banyak anak sekolah tertarik kepada ilmu sains. Misalnya: http://Sains.TV

Salah satu masalah di dunia teknologi pendidikan, luar negeri sama saja, adalah "skills" ilmuwan teknologi pendidikan sudah ... hilang. Solusinya sekarang selalu adalah komputer! Padahal sering yang paling cocok adalah peraga, realia, atau teknologi sederhana. http://teknologipendidikan.com/teknologi.html
Ref: "Teknologi Pendidikan Untuk Masa Kini / Masa Depan"

Teknologi Pendidikan (Facebook); Penggunaan teknologi dalam upaya memecahkan masalah belajar adalah merupakan salah satu domain dalam TP yang sudah disepakati, yaitu pemanfaatan.

Seringkali kebijakan dalam pendidikan yang diambil oleh pemerintah jarang atau hampir tidak melibatkan disiplin ilmu teknologi pendidikan, sehingga yang tampak adalah yang seperti Mr

Philip katakan diatas... yaitu "skill" ilmuwan teknologi pendidikan sudah hilang. Sesuai dg perkembangan jaman, era sekarang adalah era teknologi informasi. Karena itu output pendidikan diharapkan dapat menguasai TI agar peradaban bangsa ini tidak tertinggal jauh.

Namun demikian, kita sepakat dg Mr Philip bahwa upaya pemecahan masalah belajar tidak selalu harus menggunakan komputer. Ada masalah2 tertentu yang harus menggunakan komputer, namun ada pula penggunaan komputer justru dapat menimbulkan masalah baru bila dipaksakan untuk diterapkan.

Phillip Rekdale; Karena ""skills" ilmuwan teknologi pendidikan" dan polar pikirnya saat ini sudah mulai sangat terbatas (teknologi canggih saja), ilmu teknologi pendidikan sebagai "ilmu" juga diancam hilang. Mungkin hanya nama saja di lanjutkan.

Phillip Rekdale Re: "diharapkan dapat menguasai TI"

Saya juga sangat mendukung ini. Semua anak-anak kita sangat perlu "menguasai TI" supaya mereka siap untuk bekerja di lapangan atau melanjutkan pendidikannya (harus). http://E-Pendidikan.Com

Tetapi sebagai "ilmuwan teknologi pendidikan" kita bertangungjawab untuk mengerti; manfaat, keuntungan, dan kerugiannya menggunakan semua macam teknologi untuk mengimplementaasikan pembelajaran.

Biasanya teknologi yang paling cocok adalah yang paling sederhana. Kita tidak hanya dapat paling membantu guru, tetapi kita juga dapat memaksimalkan resources dan anggaran untuk pendidikan.

Teknologi Pendidikan; Maaf, yang anda maksud "teknologi" apakah teknik/metode/strategi ataukah "hasil/produk" dari teknologi..?

Phillip Rekdale; Naaaaa....... ini mengarah ke isu-isu yang sama saja penting. Kita sebagai ilmuwan juga harus mampu untuk mencontohkan cara menggunakan teknologi (teori pengajaran dasar - pedagogi). Melihat saja banyak guru dan dosen masih tidak dapat menggunakan OHP dengan baik.

"Teknologi" termasuk semua jenis teknologi dari; realia, peraga, kertas, pena, papan tulis, OHP, TV, video, data projector, dll...

Kalau kita mulai ngomong mengenai metode dan strategi kita perlu seminggu lagi. Boleh, tetapi nanti....

Yang paling penting kita mulai desian TP dari kebutuhan "apa yang gurunya ingin mengajar" - dari sini kita dapat menganalisa, merancang bahan yang palin baik, dan akhirnya memilih teknologi yang akan paling mengajak pelajar paling aktif dalam proses pembelajaran.

Banyak ilmuwan sekarang merasa interaksi dan aktivitas adalah olahraga jari di keyboard. Sebenarnya ini adalah salah persepsi yang sangat perlu dihadapi juga.

Teknologi Pendidikan; Maaf juga mister, yang anda maksud ilmuwan itu siapa?
Re - Kita sebagai ilmuwan juga harus mampu untuk mencontohkan cara menggunakan teknologi...
Re - Banyak ilmuwan sekarang merasa interaksi dan aktivitas adalah olahraga jari di keyboard...
Disini kita perlu menyamakan persepsi dulu agar semua yang membaca "diskusi ini" dapat benar2 menangkap apa yang kita maksudkan.

Phillip Rekdale; Terakhir hari ini (barangkali)
Re: "Ada masalah2 tertentu yang harus menggunakan komputer"


Misalnya?

Kecuali kalau kita mengajar teknologi komputer atau keterampilan komputer atau mata pelajaran TIK kita tidak terpaksa menggunakan komputer.

Buktinya?

1. Semuanya sampai sekarang sudah dapat diajarkan tanpa komputer dan di banyak negara masih begitu, termasuk Indonesia.

2. Orang-orang yang mendesain komputer saja adalah dari generasi yang tidak menggunakan komputer untuk belajar (dan barangkali masih tidak - sangat membosankan dibanding dengan pembelajaran kotekstual).

Melihat saja banyak sekali yang menang di Olimpiad adalah dari sekolah di desa, berarti pendidikannya sangat efektif tanpa komputer. "Mutu tidak terkait dengan teknologi."

Salam hormat, terima kasih.

Teknologi Pendidikan; Dalam menyampaikan isi pembelajaran, terkadang memang saat ini dipilih penggunaan media komputer karena dipandang hal itu lebih efisien. Namun tidak berarti semua cocok bila menggunakan media komputer.

Misalnya dalam menggambarkan bagaimana proses terjadinya letusan gunung berapi, tentu akan berbahaya bila siswa diajak langsung ke tempat letusan. ... Lebih baik kita mendesain sebuah animasi komputer yang dirancang khusus (by design) untuk hal tersebut dan tentunya terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran.

Karena sesuai prinsip media DALE, semakin kongkrit sebuah pesan akan lebih mudah diingat daripada siswa hanya membaca lewat buku atau hanya membayangkan dari apa yang mereka dengar saat guru menjelaskan.Dan disitulah peran dan fungsi teknologi pendidikan, yaitu menjembatani antara keadaan REAL dan keadaan IDEAL.

Salam hormat, terima kasih juga untuk anda mr Philip.

Phillip Rekdale; Re: "Apakah anda setuju membawa siswa ke letusan gunung berapi untuk mempelajari terjadinya letusan?"

Anda sudah tahu jawabannya, dan anda juga tahu bahwa ada banyak film yang dipakai sejak dahulu yang sangat efektif. Masih tidak perlu komputer.

Phillip Rekdale; Komputer hanya meningkatkan biayanya dan hanya ada sangat sedikit komputer di sekolah-sekolah di Indonesia. Tetapi kebanyakan sekolah dapat menyediakan CD untuk menonton film letusan gunung berapi. Biar dipinjam dari ortu. Tanpa tambahan biaya.

Kalau ingin ngomong hal efisinsi pendidikan, komputer bukan solusinya. Sangat mahal dibandingnya dan perawatan - siapa bertanggungjawab. Banayak sekolah tidak punya uang untuk perawatan papan tulis.

Phillip Rekdale; Maaf, baru mau tutup, harus ke pasar dan ini baru muncul.

Re: "Maaf juga mister, yang anda maksud ilmuwan itu siapa?"

"Siapa saja yang langsung bekerja untuk membantu atau menesihat guru secara langsung."

Misalnya karir saya:
- Audio-Visual Technician (saya mulai belajar ilmunya di sini)
- Audio-Visual Technical Officer
- Education Media Services Technical Manager


Terakhiir saya Technical Manager di salah satu Universitas yang mempunyai 5 kampus - jadi sering harus berjalan jauh untuk melaksanakan tugasnya.

Semua staff saya pada waktu itu harus mengerti prinsip dasar yang kita membahas di atas dan siap melaksanakan, kecuali yang hanya mengantar dan mengoperasikan peralatannya.

Salam hormat

Phillip Rekdale; Ya, kita membahas teknologi canggih, tetapi rotinya habis :-)
Low-teknologi - sama saja penting!
Salam Teknologi Pendidikan Indonesia

Teknologi Pendidikan; Salam juga mister, habis ini saya lanjutkan diskusi kita.

Salam TP Juga..

Phillip Rekdale; Semoga sukses

Phillip Rekdale; Ada lagi yang baru muncul: Re: "memang saat ini dipilih penggunaan media komputer karena dipandang hal itu lebih efisien"

Hanya lebih "efisien waktu" untuk pelajar yang tidak dapat atau tidak praktis ikut kelas, misalnya mahasiswa, pelatihan staf yang belajar sambil kerja (teknisi, pilot, perwat,dlll)

Tetapi untuk siswa sekolah mana buktinya?

Pembelajaran di kelas masih dilaksanakan di seluruh dunia karena masih cara belar yang terbaik. Banyak kekurangan kalau memakai komputer (nanti deh!).

Manfaatnya E-Learning adalah sangat terbatas dan seperti saya sebut pada awalnya bukan isu prioritas pendidikan di Indonesia saat ini (lihat saran paling bawah).

Salam

Teknologi Pendidikan; Oke mister, rasanya saya mencium ada perbedaan persepsi. Memang penggunaan komputer dlm pembelajaran ada 2 macam : 1. Sebagai media atau sarana menyampaikan isi pembelajaran. Lebih dikenal dengan istilah kmputer pembelajaran, untuk belajar siswa secara individu atau digunakan di kelas oleh guru dengan presentasi dsb.
2. Komputer digunakan dalam ... Read morekegiatan pembelajaran secara langsung, lebih dikenal dengan E-Learning. Dimana hampir semua kegiatan belajar mengajar menggunakan komputer secara online, atau paling tidak ada server khusus yang di gunakan bersama-sama.

Semua aktivitas siswa baik absensi,belajar,evaluasi menggunakan komputer. Disini elearning sudah merupakan sistem.

Yang saya maksudkan adalah yang nomer 1.

Phillip Rekdale; Re: "Memang penggunaan komputer dlm pembelajaran ada 2 macam"

Bila ada 2 macam atau 100 macam, belajar di kelas masih ada cara yang terbaik.

Contoh: Dua tahun yang lalu saya balik ke Austrlia untuk mengurus beberapa hal pribadi. Ketahuan sama Director of Studies di sekolah di mana saya mengajar pada tahun 1997 saya diminta mengajar di situ lagi. Ya, mengapa tidak?

Saya kaget, terus terang. Pada tahun 1997 mereka lagi gila membuat bahan untuk belajar di komputer - ada staf khusus.

Tetapi kemarin bahan itu sudah tidak dipakai dan waktu saya mencarinya, tidak ada yang tahu ke mana bahannya.

Mereka masih mengunakan lab komputer tetapi bahannya "berbasis games" komersial dan guru-guru tidak begitu merasa praktik di lab adalah begitu penting.

Semua pembelajaran yang penting balik ke kelas, dan mereka sudah meningkatkan kegiatan ketrampilan, tetapi tidak menggunakan teknologi - life skills.

Kelihatannya keadaan di sini sekarang seperti suasana di Australia tahun 1997.

Teknologi Pendidikan; Film juga hasil teknologi. Dan bisa disimpan di keping CD, diberi narasi yang sesuai dengan kurikulumnya, ditambah caption, musik sehingga tidak membosankan. Dan untuk mengedit atau men-mix itu diperlukan komputer. Juga untuk melihat isi yang didalam CD diperlukan komputer. Sekarang lebih murah mana mister, komputer atau film projector? Kalau memakai Video, perlu disesuaikan tata ruang kelas dengan ukuran TV, dan Video hanya 1

arah....
Kalau memakai siaran TV, berapa biaya untuk membiayai itu mulai dari satsiun TV sampai dapat dilihat di kelas.
Bukankah lebih efisien bila guru menerangkan dengan presentasi power point...?

RE "Komputer hanya meningkatkan biayanya dan hanya ada sangat sedikit komputer di sekolah-sekolah di Indonesia. Tetapi kebanyakan sekolah dapat menyediakan CD untuk menonton film letusan gunung berapi. Biar dipinjam dari ortu. Tanpa tambahan biaya."

Sepakat mister, dari depan sudah saya katakan "Ada masalah2 tertentu yang harus menggunakan komputer, namun ada pula penggunaan komputer justru dapat menimbulkan masalah baru bila dipaksakan untuk diterapkan."

Thanks

Phillip Rekdale; Terima kasih, jarang saya dapat membahas isu-isu begini dengan orang yang ingin mendengar.

Masalah utama adalah kebanyakan orang mempunyai "kepentingan sendiri", tetapi saya hanya ingin yang terbaik untuk Indonesia dan tidak ingin melihat Indonesia membuang uang dan SDM seperti negara lain dulu.

This time I am gone!...

Bye.............

Phillip Rekdale; Adu.....

Re: "Film juga hasil teknologi. Dan bisa disimpan di keping CD, diberi narasi yang sesuai dengan kurikulumnya, ditambah caption, musik sehingga tidak membosankan."

Membosankan............

Jauh lebih murah memakai CD Player biasa dengan saran yang betul interaktif dan informative dari guru secara hidup dan langsung.

Phillip Rekdale; Tadi saya Adu..... karena saya mau mematikan komputer dan ada alert yang muncul lagi.

Terima kasih banyak, sangat menghargai kepedulian anda.

Salam

Teknologi Pendidikan; Mister...
bukankah VCD Player juga teknologi? Disitu juga ada processor,memory untuk melihat isi dalam CD?
Kata anda : "Mutu tidak terkait dengan teknologi."
"Biasanya teknologi yang paling cocok adalah yang paling sederhana..."

Yang lebih murah lagi menggunakan kapur, karena kapur juga hasil teknologi.

Salam damai, kita sama sama perduli dengan pendidikan. Saya juga salut dengan anda, sungguh.

Thanks

Phillip Rekdale; Re: "bukankah VCD Player juga teknologi?"

Ya, memang dan saya sangat mendukung teknologi pendidikan - TP adlah jurusan saya. Tetapi APPROPRIATE TECHNOLOGY yang terjangkau, "SUSTAINABLE", dan masuk akal. Kita harus mengunakan teknologi yang dapat dipakai di lapangan luas, bukan hanya di sekolah elitis.

Kita wajib untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang di desa yang paling miskin.

Mengarah ke keadilan pendidikan untuk semua, tidak hidup di dunia mimpi....

Apakah pakai komputer di desa?
"30 Ribu Desa Belum Teraliri Listrik"

Salam Teknologi Pendidikan Indonesia

Salam Pendidikan

Topik Sebelumnya

Re: "Membumikan Cybereducation"

Phillip Rekdale; Bagus artikelnya seimbang dan banyak perspektif - Salut! Dengan CyberEducation dan E-Learning yang jauh lebih penting sekarang bukan caranya mengatasi tekno-gap tetapi bagaimana kita dapat membuat fondasi terhadap isu-isu begini.

Puluhan ribu sekolah adalah rusak atau ambruk, banyak anak tidak punya akses ke fasilitas dasar di sekolah. Apakah teknologi tidak hanya akan membersarkan jaraknya? Apakah teknologi adalah prioritas sama sekali kalau kita melihat kenyataan di lapangan?

Ref: http://www.facebook.com/profile.php?id=100000145360334&ref=mf

Untuk TPers : Pemanfaatan TIK untuk Pendidikan Masa Depan


Re: "Pemanfaatan TIK untuk Pendidikan Masa Depan"

Saya sudah mendengar topik begini dibahas di Australia sejak tahun 1988, tetapi peran TIK, kecuali untuk sebagai sumber informasi dan komunikasi, masih sangat kecil dalam peran pembelajaran. E-Learning di komputer mempunyai peran untuk kasus spesifik, tetapi untuk pembelajaran di sekolah masih kalah sekali dibanding belajar di kelas biasa.

"Those who place their faith in technology to solve the problems of education should look more deeply into the needs of children. The renewal of education requires personal attention to students from good teachers and active parents, strongly supported by their communities. It requires commitment to developmentally appropriate education and attention to the full range of children's real low-tech needs - physical, emotional, and social, as well as cognitive."
http://www.allianceforchildhood.net/projects/computers/computers_reports_fools_gold_exec.htm

Kalau kita serius dan ingin meningkatkan "mutu pendidikan", biasanya bukan TP yang dicari sebagai solusi, misalnya melihat http://MBEProject.Net . Sebenarnya di negara barat kami sudah menggunakan teknologi yang paling modern, padahal mutu pendidikan sering disebut sudah turun: http://TeknologiPendidikan.Com.

Di bawah saya membaca "ARAH BARU PENGEMBANGAN PROFESI TEKNOLOGI PENDIDIKAN", mengarah ke mana?

Kalau teknologi yang lebih canggi misalnya Internet, kita perlu ingat "JAKARTA, KOMPAS.com — Dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet sehingga program buku sekolah elektronik dinilai tidak efektif."

Kalau dapat diakses belum tentu e-book bermanfaat (lihat saran di bawah)

Coba membaca tulisan dari laptop dan data projector di belakang peserta yang memegang kertas besar di: http://teknologipendidikan.com/teknologi.html apakah teknologi membantu? Apa itu "Ilmu TP"

Yth. Teman-Teman,

Saya mengopy ini dari Basic Education Forum saya:

"Hikmah Prasetyawan: Terima kasih telah membuat halaman penggemar ini. akan lebih baik jika memberikan materi, pemberitahuan penting tentang dunia pendidikan indonesia, akses download e book buku pelajaran indonesia, sistem pendidikan luar, dll. Sukses selalu."

Jawaban saya:

Terima kasih Hikmah. E-book tidak begitu bermanfaat kecuali untuk mahasiswa yang "scanning" untuk reference. Kalau e-book dibaca di komputer pusing dan matanya sakit. Kalau di-print - lebih mahal daripada buku cetak.

Sistem pendidkan di luar negeri masih bebasis kelas biasa, seperti di sini. Isu-isu pendidikan yang penting anda dapat membaca di http://pendidikan.net/ atau http://E-Pendidikan.Com
Salam hangat
Phillip

Kalau anda mencari informasi dan "downloads" sebaiknya anda kunjungi http://mbeproject.net/ atau http://InovasiPendidikan.Net (baru - sedang dibuat)
Salam
Phillip

Saya ingin tanya, apa itu TP? Termasuk apa?

Tambahan: "Computers pose serious health hazards to children. The risks include repetitive stress injuries, eyestrain, obesity, social isolation, and, for some, long-term physical, emotional, or intellectual developmental damage. Our children, the Surgeon General warns, are the most sedentary generation ever. Will they thrive spending even more time staring at screens?"
Ref: http://www.allianceforchildhood.net/projects/computers/computers_reports_fools_gold_exec.htm

Facebook dan Pendidikan


Yth. Teman-Teman,

Salam sejahtera!

Saya sudah beberapa kali menyampaikan saran mengenai masalah-masalah anak-anak yang membuang waktu di WarNet mengakses Facebook, Yahoo Messenger, Friendster, dll..... Ref: http://E-Pendidikan.Com

Tetapi saya melihat bahwa makin lama makin banyak anak sekolah membuang waktu di situs-situs begini. Bagaimana caranya untuk menghadapi masalah ini? Memang tidak gampang! Ini adalah masalah global.

Saya mengajak teman-teman untuk membuat sebanyak mungkin halaman di Facebook yang betul berisi informasi pendidikan karena yang saya melihat banyak sekali halaman yang namanya 'terkait pendidikan' hanya sebagai tempat chatting saja, dan bukan topik-topik pendidikan.

Tetapi mohon jangan seperti salah satu guru yang dilapor siswa-siswi, membuat mereka wajib untuk kunjungi situsnya untuk membaca PRnya. Ini hanya meningkatkan biaya pembelajaran, dan kalau kita membuat siswa-siswi wajib kunjungi Facebook mungkin kita hanya akan menambah masalahnya.

Saya baru membuat tiga (3) halaman di Facebook, satu untuk keluarga dan teman-teman, tetapi dua lagi untuk membahas isu-isu pendidikan.

Pendidikan Dasar (Basic Education): http://www.facebook.com/pages/Basic-Education-Forum/115720171565

Teknologi & Pendidikan: http://www.facebook.com/profile.php?id=1325156546

Nanti saya dapat membuat 'Indeks Link-Link Facebook' (halaman-halaman anda) yang bermanfaat di http://Pendidikan.Net dan http://E-Pendidikan.Com

Semoga strategi ini akan bermanfaat dan membantu.

Salam hormat

Phillip R.

REMINDER TO ALL STUDENTS (and parents) - ESTABLISH A BALANCE, allocate a Maximum Chatting / Facebooking time each day - and keep to it. Hopefully information on this page will be educational and Facebook is fun, however STUDYING FOR YOUR FUTURE is much more important!
Warm wishes to all students everywhere!

References:
"Gangguan Jiwa Gara-gara Facebook dan Blackberry"
"Facebook Sebabkan Mahasiswa Malas dan Bodoh"