 (Teknologi Berbsis Ilmu Teknologi Pendidikan)
Sesuatu yang sangat lucu yang saya ketemu sambil mencari info kemarin adalah:
"Dasar Hukum Pembuatan Alat Peraga dan Penemuan Teknologi Tepat Guna:
–Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
–Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Nomor : 0433/P/1993, Nomor : 25 Tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
–Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis
Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya."
Padahal memilih "Alat Peraga dan Penemuan Teknologi Tepat Guna" seharusnya adalah Keputusan Oleh Guru - Teknologi Yang Terbaik Untuk Mencapaikan "Tujuan Sesuai Keadaan-nya", maupun yang dapat meningkatkan sebanyak mungkin objektif selain pembelajaran tertentu sesuai perkembangan mutu SDM.
Kalau mengajar di negara maju tidak ada "Hukum Pembuatan Alat Peraga dan Penemuan Teknologi Tepat Guna", bukan urusan pemerintah kan? Yang penting adalah semua strategi yang dimanfaatkan mengarah ke perkembangan manusia (SDM), dan dapat dibela secara pedagogi. Misalnya di sekolah saya dulu (waktu mengajar bahasa Inggris) kadang-kadang saya naik ke atas meja untuk menfokuskan perhatian siswa dan mengilustrasikan sesuatu penting, misalnya sesuatu yang aneh (atau lucu) terkait kebudayaan. Pelajarnya sangat memperhatikan kegiatan-nya, maupun pasti ingat selama hidup, jadi sangat sesuai pedagogi. Maupun Director of Studies saya sangat menghargai efort saya untuk meningkatkan mutu pembelajaran-nya.
Apa teknologi-nya yang dipakai? Meja kan...? Dan saya sering menulis "alat bantu" seperti itu dalam rencana pembelajaran saya...
Mungkin kebijakan adalah salah satu legasi (legacy) dari Orde Baru di mana semuanya harus diatur (kontrol) dan di mana Perkembangan SDM Secara Kreatif dan Individu (termasuk guru) kelihatan-nya bukan tujuan pendidikan sebenarnya.
Kayaknya legasi ini masih mendominasikan pikiran di dunia Teknologi Pendidikan juga. Mengapa membuat kebijakan terhadap dunia Teknologi Pendidikan kalau tidak masih berbasis-kontrol? Dasarnya perkembangan teknologi pendidikan adalah keputusan oleh guru berbasis; tujuan, kebutuhan, sumber-sumber yang ada (keadaan), teknologi yang paling mengembangkan kemampuan pelajarnya sesuai kebutuhan kurikulum, maupun secara individual.
Apakah tujuan-nya menjamin standar mutu teknologi yang digunakan oleh guru? Kalau begitu kuncinya adalah profesionalisme guru, bukan kebijakan, apa lagi yang sangat tidak sesuai dengan keadaan (atau kebutuhan) di lapangan seperti Pembelajaran Berbasis-ICT di mana kebanyakan sekolah tidak mempunyai cukup ICT untuk mengajar mata pelajaran ICT saja, maupun dapat menggunakan ICT untuk pembelajaran, dan masih banyak sekolah yang belum punya sama sekali, atau yang ada dipakai di bagian administrasi.
http://TeknologiPendidikan.Com/rasiokomputer.html
Apalagi di mana kebutuhan dasar, tempat belajar saja yang aman dan nyaman belum dicapaikan: "Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll", "Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW) - Maupun, kelihatannya makin lama makin banyak sekolah yang rusak!
Perkembangan Teknologi Pendidikan adalah paling terkait dengan Perkembangan Profesionalisme Guru, bukan Kebijakan, atau Teknologinya, apalagi kebijakan yang dapat mengancam perkembangan kreativitas guru. Perkembangan Teknologi Pendidikan juga dapat diancam oleh Ilmuwan Teknologi yang hanya ingin mendorong teknologi tertentu (tunnel vision), yang tidak berbasis keadaan, kenyataan, maupun kebutuhan di lapangan oleh Penelitian yang Tepat Guna.... Tidak Berbasis-Keadaan Indonesia!
Kemarin saya lagi membahas media seperti video dan televisi pendidikan dan saya sangat prihatin melihat bahwa peran video (dan televisi) , maupun kayaknya kemampuan untuk merencanakan dan memproduksikan video yang tepat guna masih kurang dipaham pada tahun 2011, padahal televisi pendidikan sendiri masih mempunyai peran penting di dunia Pendidikan Masyarakat (tetapi peran-nya di kelas masih agak minimal, seperti kita dapat melihat di negara lain), maupun tidak begitu efektif di kelas kecuali dapat dimaksimakan oleh guru yang bermutu dan profesional.
Saya angap ini adalah masalah oleh "tunnel vision", maupun yang saya suka sebut, terlalu banyak "Joki Teknologi " yang bergerak di dunia teknologi pendidikan kita.
Dalam Ilmu Teknologi Pendidikan Semua Jenis Teknologi dari Kertas sampai Teknologi Canggih dapat menjadi Teknologi Tepat Guna (tidak terkait zaman), tergantung tujuan pembelajaran, keadaan/situasinya, dan kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologinya. Spidol sendiri dapat mempunyai 1.000 (barangkali unlimited) aplikasi sebagai peraga (selain funksi pena) untuk guru yang mengerti dasar-nya Ilmu Teknologi Pendidikan. - http://teknologipendidikan.com/kebijakan-ict.html
Re: "Semua Jenis Teknologi... dapat menjadi Teknologi Tepat Guna" (di atas).
Sejenis teknologi juga dapat disebutkan "Tidak Tepat Guna" karana tidak sesuai keadaan atau mengancam tujuan pendidikan, seperti tujuan perkembangan SDM yang Kreatif di Indonesia sekarang, di mana kita ingin meninggalkan pembelajaran berbasis hafalan dan menuju pembelajaran yang aktif dan kontekstual....
Misalnya boleh sebut : ICT adalah Teknologi yang "Paling Tidak Tepat Guna" untuk Pembelajaran di Sektor Pendidikan Umum
ICT adalah teknologi yang "Paling Tidak Tepat Guna" untuk Pendidikan Umum Yang Bermutu di Indonesia, kan? ICT dapat membunuh kreativitas (e-Learning / programmed learning), sangat terbatas oleh kekurangan infrastruktur, maupun biaya perawatan yang sangat mahal, banyak sekolah tidak dapat merawat sekolah saja, maupun ratusan komputer (puluhan juta komputer secara nasional)....
Salam Teknologi Pendidikan
http://TeknologiPendidikan.Com/
(Draft in progress Januari 21, 2011)
Saran-Saran Dari Lapangan
Winastwan Gora Swajati:
Sepakat pak! Terima kasih atas tulisannya.
Citra Dewie Puspitasari:
Saya setuju dengan pernyataan Anda "Dalam Ilmu Teknologi Pendidikan Semua Jenis Teknologi dari Kertas sampai Teknologi Canggih dapat menjadi Teknologi Tepat Guna (tidak terkait zaman), tergantung tujuan pembelajaran, keadaan/situasinya, dan kemampuan guru untuk memanfaatkan teknologinya. "
Berangkat dari pernyataan tersebut, saya pikir masalahnya adalah bagaimana mengubah pandangan umum yang mendewakan ICT sebagai modal utama pencapaian pendidikan bermutu, Pak. Sementara pola pikir yang sudah tertanam itu mengakar dan amat sulit untuk diubah. Jadi bagaimana sebaiknya, Pak?
Phillip Rekdale: @Citra Dewie Puspitasari - Terima kasih
Re: "bagaimana mengubah pandangan umum"
Salah satu solusi adalah mengganti SDM di Manajemen Pendidikan kita yang kayaknya mendukung "pandangan umum" itu :-) Kayaknya SDM-nya kurang bermutu kan?
Maupun isu #1 di dunia pendidikan kita (korupsi) belum dihadapi secara serius kan? http://pendidikan.net/index.html#5langkah
Salam Pendidikan
Phillip Rekdale: @Citra Dewie Puspitasari - Terkait Jurusan TP...
Yang penting merubah sifatnya Jurusan TP dan mulai mengarah ke Ilmu Teknologi Pendidikan, Bukan Ilmu Pseudo-TI, seperti kita membahas kemarin.
Ilmu yang Dapat Membantu Dunia Pendidikan Kita Sekarang!
Salam Teknologi Pendidikan
Citra Dewie Puspitasari: Terima kasih atas tanggapan Anda, Pak Rekdale.
Sepakat dengan jawaban Anda, semua kembali pada SDM. Bahkan saya kira untuk mengubah sifat jurusan TP pun tidak lepas kaitannya dengan SDM di dalamnya. Bukan begitu, Pak?
Jika demikian, perlu upa...ya ekstra untuk membenahi semua itu yang tentu saja tidak mungkin terjadi tanpa kesadaran pihak-pihak terkait. Nah, di situlah letak kesulitannya, apalagi jika kita berbicara mengenai SDM, sebab mengganti atau mengubah SDM tidak semudah membalik telapak tangan, bukan?
Salam Pendidikan
Phillip Rekdale: @Citra Dewie Puspitasari - Terima kasih
Re: "jurusan TP pun tidak lepas kaitannya dengan SDM di dalamnya. Bukan begitu, Pak?"
Ya, seperti saya menjawab kemarin:
@Adnand Amry T'Mc - Terima kasih
Re: "bagaimana mengubah pola pandang dosen2 TP yg masih menganggap TP sbagai jurusan pseudo TI ?"
Beberapa tahun yang lalu saya sangat naif dan percaya kalau saya meyediakan informasi maupun membahas isu-isu seperti kekurangan manfaat-nya TI dalam TP (dan pendidikan yang bermutu) maupun kerugian-nya dan isu-isu terkait kenyataan di Indonesia mereka akan mendalami pengertian terhadap isu-isu ilmu TP sendiri. Tetapi sampai sekarang masih banyak dosen kelihatannya hanya mengulangkan retorika mengenai TI tanpa critical analysis, jadi hanya sebagai consumers, bukan thinkers.
Kalau mereka mengganti nama jurusan-nya ke Jurusan Pseudo-TI saya tidak mempunyai masalah. Semoga kita dapat mengembangkan Jurusan TP yang betul berbasis Ilmu TP dan mulai membantu mutu pendidikan di negara kita.
Re: "mengapa TP masih saja d kaitkan dgn teknologi komputer dsb, padahal teknologi kan bukan hanya sebatas alat2 elektronik saja ?"
Saya hanya bisa tebak bahwa itu kekurangan pengertian Ilmu TP (atau Ilmu Pendidikan). Saya dulu mengajar Jurusan Elektronik di PT (TAFE) dan saya sendiri (walapun sudah lama menggunakan komputer secara profesional dan pribadi) tidak pernah menggunakan komputer di jurusan itu, walapun mengajar Fundamentals of Digital Electronics.... Barangkali karena saya sudah belajar prinsip-prinsip TP sebelum mulai mengajar di arena formal....
Saya selalu memilih media yang lebih terkait dengan "Discovery Learning" bukan berbasis-informasi & Komunikasi...
Tetapi kalau mengajar mengenai ICT baru menggunakan komputer....
Balik ke laptop: "bagaimana mengubah pola pandang dosen2 TP yg masih menganggap TP sbagai jurusan pseudo TI ?"
Mungkin mereka perlu ikut kursus TP yang berbasis Appropriate Technology dan critical analysis of technology in education :-)
Kalau kita melihat jawaban-nya Pak Totok Amin Soefijanto, Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta. He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University"
"I am agree on all points you mentioned. Indeed, I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology to achieve quality teaching/learning?"
http://teknologipendidikan.com/teknologi.html
Salam Teknologi Pendidikan
Citra Dewie Puspitasari: Baiklah, Pak Rekdale. Terima kasih Anda mau berbagi bersama saya. Senang berdiskusi dengan Anda. Saya akan mencermati penjelasan-penjelasan Anda. Dan semoga saya bisa mengambil manfaat untuk perbaikan diri saya (sebelum dunia pendidikan, tentunya), karena segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, bukan? Terima kasih.
Ajeng Oet: Setuju, Mr... Saya jg sering naik ke atas meja. .ketika memperagakan hubungan antara gaya gravitasi dan gaya gesekan. . .murid2 saya pun. .sibuk mengikuti apa yg saya lakukan. .kenapa mesti pemerintah ngurusi guru naik meja, ya. . .hahaha. .yang penting PBM berjalan menyenangkan, tul gak, Sir. . .?
Phillip Rekdale: @Citra Dewie Puspitasari - Terima kasih
Re: "karena segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, bukan?"
Memang mulai di situ, tetapi kalau kita tidak berjuang untuk meningkatkan pengertian maupun kemampuan orang lain kita juga boleh disebut kurang profesional terhadap kemajuan ilmunya maupun negara kita...
Selamat Berjuang!
Salam Teknologi Pendidikan
Phillip Rekdale: @Ajeng Oet - Terima kasih
Re: "Setuju, Mr. . . Saya jg sering naik ke atas meja"
Salut.....
Re: "yang penting PBM berjalan menyenangkan"
Betuuuuuuuuuuul, yang penting adalah PBM/KBM mencapaikan tujuannya dan pembelajaran yang paling efektif dan menyenangkan adalah pembelajaran yang berbasis guru kreatif......
Salam Teknologi Pendidikan
Phillip Rekdale
Apakah Kebijakan terhadap TIK (ICT) di Sekolah Mengancam Perkembangan Pendidikan?
Dibuat 21 Januari, 2011
Copyright © 2008-2011
|