"Kuliah Bersama di Widya Telewicara" (Mendiknas) Aduh - Teknologi Lagi !
"Berkat kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kini seorang mahasiswa tak perlu jauh-jauh meninggalkan Tanah Air untuk mengikuti kuliah ataupun seminar. Melalui sarana widya telewicara, seorang mahasiswa bisa melakukan kuliah umum di satu perguruan tinggi yang bisa diikuti oleh beberapa perguruan tinggi lain, bahkan di luar negeri secara bersamaan."
"Semua itu tak lepas dari upaya Departemen Pendidikan Nasional, yang membuka koneksi dengan Global Development Learning Network (GDLN) untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, dan mendekatkan Indonesia ke dunia melalui teknologi widya telewicara (video teleconference)."
"GDLN adalah jejaring TIK internasional dengan anggota lebih dari 80 negara"
Salah satu masalah yang kita membahas di artikel kemarin "Pengumuman Multimedia Terbukti Tingkatkan Nilai Siswa" adalah pembelajaran di kampus-kampus PT di Indonesia adalah kurang "interaktif".
Pada tahun 1995 di salah satu universitas, yang memiliki lima (5) kampus di mana saya sebagai Manajer Teknologi, kami uji coba Teleconferencing sebagai solusi untuk membagi sumber dari satu (1) kampus sebagai sumber untuk empat (4) kampus lain. - Kedengarannya manis kan?
Kenyataannya? Coba membayangkan situasi di mana biasannya ada 100 sampai 200 mahasiswa / mahasiswi di satu ruang. Di dalam keadaan begini kemungkinan untuk interaksi sudah hampir nol. Nah, coba membayangkan situasi di mana mahasiswa / mahasiswi dari empat (4) kampus lain bergabung lewat teleconferencing! Beberapa kali mereka mencoba membagi kesempatan ke kampus lain untuk menyampaikan pertanyaan, aduh repotnya! Yang terjadi adalah ratusan mahasiswa / mahasiswi duduk pasif sambil menunggu...........
"A large number of people is difficult to manage in a single teleconference, with individuals attempting to interact and present their points of view. One-on-one dialogue with a few people is usually preferable. Widely divergent topics are also difficult to handle with a large number of people participating in a teleconference."
Mengapa video teleconferencing di kampus-kampus di negara maju tidak begitu berkembang sejak 1995? Kalau lewat teleconferencing kesempatan untuk belajar secara aktif / interaktif mengarah ke nol minus ("0-" = membuang waktu dan duit) sebaiknya informasi (lecture) di merekam dan dibagi oleh CD/DVD saja, tidak usah menggunakan teknologi teleconferencing atau Internet (hanya tambah sulit).
RE: "GDLN adalah jejaring TIK internasional dengan anggota lebih dari 80 negara" - Apakah mereka pakai bahasa Indonesia?
Dibuat 19 Februari, 2010
Copyright © 2008-2010
|